ASKEP HIL

Juniartha Semara Putra

ASKEP HIL
BAB I
TINAJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Defianisi
Hernia inguinalis adalah terjadinya penonjolan isi rongga abdomen melalui annulus inguinalis interna mengikuti apermatid cordi di kanale ingunalis kemudian keluar melalui annulus inguinalis eksterna sehingga terdapat benjolan di daerah inguinalis.

2. Anatomi

• kulit dan jaringan subkutis
lapisan muskulo-aponeurisis
peritoneum parietal dan jaringan preperitoneum
rongga perut
cincin atau pintu hernia (tempat keluarnya jaringan/ organ tubuh, berupa LMR yang dilalui kantong hernia)
kantong hernia

Bagian-bagian Hernia
1. kantong hernia
Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak semua hernia memiliki kantong, misalnya : hernia incisional, hernia adipose dan hernia intertitialis.
2. isi hernia
Berupa organ atau jaringa yang keluar melalui kantong hernia. Pada hernia abdominalis berupa usus.
3. pintu hernia
Merupakan bagian locus minoris resistence yang dilalui kantong hernia.
4. leher hernia
Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong hernia
5. locus minoris resistence (LMR)

3. Fisiologi
Kanalis inguinalis dibatasi dikraniolateral oleh annulus inguinalis internus yang merupakan bagian terbuka dari fasia tranversalis dan aponeurisis m.transversus abdominis, dimedial bawah, diatas tuberkulum pubikum, kanal ini dibatasi oleh annulus inguinalis eksternus, bagian terbuka dari aponurisis m.oblikus eksternus, dan didasarnya terdapat ligamentum inguinale. Kanal berisi tali sperma pada pria, dan ligamentum rotundum pada wanita.
Nervus ilioinguinalis dan iliofemoralis mempersarfi otot diregio inguinalis, sekitar kanalis inguinalis, dan tali sperma, serta sensibilitas kulit diregio inguinalis, skrotum dan sebagian kecil kulit tungkai atas bagian proksimomedial.

4. Etiologi
a. Kongenital
Terjadi akibat prosesus vaginalis pertenium persisten disertai dengan annulus inguinalis yang cukup lebar.
b. Didapat
Ditemukan adanya faktor kausal/predisposisi yang berperan untuk timbulnya hernia:
– Prosesus vaginalis yang tetap terbuka
– Peninggian tekanan intra abdomen:
• pekerjaan mengangkat barang-barang berat
• Batuk karonik: bronchitis kronik, TBC
• Hipertrofi prostat, striktur uretra, konstipasi, asites
– Kelemahan otot dinding perut:
• Usia tua, sering melahirkan

5. Fatofisiologi
Hernia berkembang ketika intra abdominal mengalami pertumbuhan tekanan seperti tekanan pada saat mengangkat sesuatu yang berat, pada saat buang air besar atau batukyang kuat atau bersin dan perpindahan bagian usus kedaerah otot abdominal, tekanan yang berlebihan pada daerah abdominal itu tentu saja akan menyebabkan suatu kelemahan mungkin disebabkan dinding abdominal yang tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah tersebut dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses perkembangan yang cukup lama, pembedahan abdominal dan kegemukan. Pertama-tama terjadi kerusakan yang sangat kecil pada dinding abdominal, . Karena organ-organ selalu selaluØkemudian terjadi hernia Pengguanaan saja melakukan pekerjaan yang berat dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga terjadilah penonjolan dan mengakibatkan kerusakan yang sangat parah.sehingga akhirnya menyebabkan kantung yang terdapat dalam perut menjadi atau mengalami kelemahan jika suplai darah terganggu maka berbahaya dan dapat menyebabkan ganggren.

6. Manifestasi klinis
– Benjolan dilipat paha yang timbul hilang. Muncul saat penderita berdiri, batuk, bersin, mengedan atau mengangkat barang berat dan menghilang saat penderita berbaring.
– Nyeri disertai muntah timbul bila terjadi inkarserasi atau strangulasi

7. Komplikasi
a. Hernia akreta; ada perlakuan isi dengan kantong hernia, tidak ada gangguan pasase
b. Hernia inkarserasi; ada perlekatan yang disertai dengan gangguan pasase
c. Hernia strangulasi; nekrosis, gangrene, abses local, peritonitis.

8. Prosedur diagnostic
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik. Benjolan akan membesar jika penderita batuk, membungkuk, mengangkat beban berat atau mengedan.
Gejala dan tanda klinik hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada hernia reponibel keluhan satu-satunya adalah benjolan dilipat paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengedan dan menghilang setelah berbaring . keluhan nyeri jarang dijumpai , kalau ada biasanya didaerah epigastrium, atau paraumbilikal berupa nyeri viseral karena regangan pada mesenterium pada waktu satu segmen usus halus masuk kedalam kantong hernia. Nyeri yang disertai mual atau muntah baru timbul kalau sudah terjadi inkarserasi karena ileus atau strangulasi karena nekrosis atau gangren.
Tanda klinik pada pemeriksaan fisik bergantung pada isi hernia. Pada inspeksi saat pasien mengedan dapat dilihat hernia inguinalis lateralis muncul sebagai penonjolan diregio inguinalis yang berjalan dari lateral atas kemedial bawah. Kantong hernia yang kososn kadang dapat diraba pada funikulus spermatikus sebagai gesekan dari dua lapis kantong yang memeberikan sensasi gesekan dua permukaaan sutera. Tanda ini disebut tanda sarung tangan sutera, tetapi umumnya tanda ini sukar ditentukan. Kalau kantong hernia berisi organ maka tergantung isinya, pada palpasi mungkin teraba usus, omentum (seperti karet), atau ovarium. Dengan jari telunjuk atau jari kelingking pada anak dapat dicoba mendorong isi hernia denganmenonjolkan kulit skrotum melalui anulus eksternus sehingga dapat ditentukan apakah isi hernia dapat direposisi atau tidak. Dalam hal hernia dapat direposisi, pada waktu jari masih berada dalam anulus eksternus, pasien diminta mengedan. Kalau hernia menyentuh ujung jari, berarti hernia inguinalis lateralis, dan kalau samping jari yang menyentuh menandakan hernia inguinalis medialis. Isi hernia pada bayi wanita yang teraba seperti sebuah massa yang padat yang biasanya berisi ovarium.
Laboratorium; pemeriksaan leukosit

9. Penatalaksanaan medis
a. Konservatif
– Pemakaian bantalan penyangga hanya dilakukan pada hernia reponibilis
– Pemberian sedative, kompres es, posisi tidur trendevenburg hanya ditunjukan pada hernia anak yang sudah mengalami inkarserasi.

b. Pembedahan
– Anak; herniotomi yaitu tentang hernia yang dibuka dan isi didorong ke dalam rongga abdomen. Kantong proksimal dijahit kuat setinggi mungkin lalu dipotong. Kantong distal dibiarkan.
– Dewasa; herniorafi dan hernioplastik
• Herniorafi terdiri dari herniotomi dan hernioplastik
• Hernioplastik; setelah herniotomi dilakukan tindakan memperkecil annulus internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a Identitas/Biodata
1. Biodata 2. Data Penanggung Jawab
Nama : Nama :
Umur : Umur :
Suku bangsa : Suku :
Agama : Agama :
Pendidikan : Pendidikan :
Pekerjaan : Pekerjaan :
Alamat : Alamat :
Kec. Kec.
Tgl. Masuk RS : Hubungan :
Tgl. Dikaji :
Diagnosa Medis :
No. RM :
Dr. Penanggungjawab :

b Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama
2) Riwayat kesehatan sekarang
P, Q, R, S, T
3) Riwayat kesehatan masa lalu
Penyakit (masa kanak-kanak, penyakit yang terjadi secara berulang-ulang, operasi yang pernah dialami)
Alergi:
Kebiasaan (merokok, minum kopi, dll) :
4) Keadaan kesehatan keluarga
Orang tua, Saudara kandung, Anggota keluarga lain
Faktor resiko terhadap kesehatan (kanker hypertensi, DM, penyakit jantung, TBC, Epilepsi, dll.)
5) Keadaan psikologis
Perilaku
Pola emosional
Konsep diri
Penampilan intelektual
Pola pemecahan masalah
Daya ingat
6) Keadaan Sosial ekonomi
Status ekonomi
Kegiatan rekreasi
Bahasa komunikasi
Hubungan dengan keluarga
Kegiatan masyarakat
7) Keadaan Spiritual
Kepercayaan, keyakinan

8) Pola Kehidupan sehari-hari
No Kegiatan sehari-hari Di rumah Di rumah sakit
1. Makan dan Minum
a. Makan
• Frekwensi
• Jenis makanan
• Makanan yang disukai
• Makanan yang tidak disukai
• Makanan pantangan
• Tujuan/alasan pantangan
• Gangguan makanan
• Cara mengatasi
• Diet khusus
b. Minum
• Jumlah intake
• Jenis
2. Pola elimenasi
a. BAK
• Frekwensi
• Jumlah
• Warna
• Gangguan/keluhan
• Cara mengatasi
b. BAB
• Frekwensi
• Konsistensi
o Gangguan/keluhan
o Cara mengatasi
3. Istirahat dan tidur
a. Lama tidur
– malam
– siang
b. Gangguan Tidur
c. Cara Mengatasi
d. Kebiasaan tidur
4. Personal hygine
a. Frekwensi Mandi tiap hari
b. Cara mandi
c. Frekwensi sikat gigi
d. Frekwensi mencuci rambut tiap minggu
e. Kebiasaan gunting kuku
5. Aktivitas
a. Gangguan dalam pergerakan/berjalan
b. Alasan/penyebab
c. Cara mengatasi
6. Sexual
a Frekwensi
b Alasan/penyebab
c Cara mengatasi

c Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum :
2) Tanda-tanda vital : Tekanan Daqrah, Suhu, Nadi, Respirasi
3) Sistem Pencernaan
Bentuk bibir, lesi mukosa mulut, kelengkapan gigi, muntah, kemampuan menelan, mengunyah, bentuk peut, BU, distensi abdomen, dll.
4) Sistem Pernafasan
Kesimetrisan hidung, pernafasan cuping hidung, deformitas, bersin, warna mukosa, perdarahan, nyeri sinus, bentuk dada, kesimetrisan, nyeri dada, frekwensi pernafasan, jenis pernafasan, bunyi nafas, dll.
5) Sistem cardiovaskuler
Konjungtiva anemis/tidak, akral dingin/hangat, CRT, JVP, bunyi jantung, tekanan darah, pembesaran jantung, Cyanosis, dll.
6) Sistem integumen
Warna kulit, turgor kulit, temperatur, luka/lesi, kebersihannya, integritas, perubahan warna, keringat, eritema, kuku, rambut (kebersihan, warna, dll.)
7) Sistem persyarafan
Tingkat kesadaran, kepala ukuran, kesimetrisan, benjolan, ketajaman mata, pergerakan bola mata, kesimetrisan, reflek kornea, reflek pupil, nervus 1 s.d. 12, kaku kuduk, dll.
8) Sistem endokrin
Pertumbuhan dan perkembangan fisik, proporsi dan posisi tubuh, ukuran kepala dan ekstremitas, pembesaran kelaenjar tyroid, tremor ekstremitas, dll.
9) Sistem muskuloskeletal
Rentang gerak sendi, gaya berjalan, posisi berdiri, ROM, kekuatan otot, deformitas, kekakuan pembesaran tulang, atrofi, dll.
10) Sistem reproduksi
Laki-laki: penis skrotum, testis, dll.
Perempuan: pembengkakan benjolan, nyeri, dll.
11) Sistem perkemihan
Jumlah, warna, bau, frekwensi BAK, urgensi, dysuria, nyeri pinggang, inkontinensia, retensi urine, dll.

d Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Rontgen

e Therapi

2. Diagnosa keperawatan dan perencanaan
Diagnosa keperawatan Perencanaan
Tujuan Intervensi Rasional
Gangguan nyeri berhubungan dengan spasme otot
Nyeri hilang/terkontrol dalam 1×24 jam setelah diberi tindakan keperawatan dengan kriteria:
– wajah tampak ceria
– Mendemonstrasikan penggunaan intervensi terapeutik (misalnya; keterampilan relaksasi, modifikasi perilaku) untuk menghilangkan nyeri. • Kaji adanya keluhan nyeri, cacat lokasi, lamanya serangan, faktor pencetus/ yang memperberat. Minta pasien untuk menetapkan pada skala 0-10
• Letakan semua kebutuhan, termasuk bel panggil dalam batas yang mudah dijangkau/diraih oleh pasien.
• Intruksikan untuk melakukan mekanika tubuh/gerakan yang tepat
• Berikan kesempatan untuk bicara/mendengarkan masalah pasien
• Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai kebutuhan; relaksan otot, analgesik. • Membantu menentukan pilihan intervensi dan memberikan dasar untuk membandingkan dan evaluasi terhadap therapi.
• Menurunkan resiko peregangan saat meraih
• Memfokuskan perhatian pasien, membantu menurunkan tegangan otot dan meningkatkan proses penyembuhan
• Menghilangkan/mengurangi stress pada otot dan mencegah trauma lebih lanjut.
• Membantu untuk menurunkan faktor-faktor stress selama dalam keadaan sakit dan dirawat. Kesempatan untuk memberikan/membetulkan informasi yang kurang tepat.
• Merelaksasikan otot dan menurunkan/menghilangkan nyeri
Gangguan intoleransi aktivitas berhubungan nyeri Klien dapat melakukan aktivitas dengan kriteria:
Dalam 1×24 jam setelah diberikan tindakan klien mampu melakukan aktivitas seperti biasa • Catat respon-respon emosi/perilaku pada mobilisasi. Berikan aktivitas yang disesuaikan dengan pasien.
• Anjurkan pasien untuk tetap ikut berperan serta dalam aktivitas sehari-hari dan keterbatasan individu.
• Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulansi progresif • Imobilitas yang dipaksakan dapat memperbesar kegelisahan, aktivitas pengalihan membantu dalam memfokuskan kembali perhatian pasien dan meningkatkan koping dengan keterbatasan tersebut.
• Partisifasi pasien akan meningkatkan kemandirian pasien dan perasaan kontrol terhadap diri.
• Keterbatasan aktivitas bergantung pada kondisi yang khusus teapi biasanya berkembang dengan lambat sesuai toleransi.

3. Imflementasi
Pada tahap dilakukan pelaksanaan dan perawatan yang telah ditentukan, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pasien secara optimal. Pelaksanaannya adalah pengelolaan dan perwujudan dan rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Jenis tindakan:
1) Secara mandiri (independen) adalah tindakan yang diprakarsai sendiri oleh perawat untuk membantu pasien dalam mengatasi masalahnya atau menanggapi reaksi karena adanya stresor (penyakit) misalnya:
a. Membantu pasien dalam melakukan kegiatan sehari-hari
b. Memberikan dorongan pada pasien untuk mengungkapkan perasaannya secara wajar.
2) Secara ketergantungan/kolaborasi (interdependen), adalah tindakan keperawatan atas dasar kerjasama tim perawatan atau tim kesehatan lainnya misalnya dalam hal pemberian obat sesuai instruksi dokter, pemberian infus: tanggung jawab perawat kapan infus itu terpasang.

4. Evaluasi
Evaluasi adalah merupakan salah satu alat untuk mengukur suatu perlakuan atau tindakan keperawatan terhadap pasien. Dimana evaluasi ini meliputi evaluasi formatif / evaluasi proses yang dilihat dari setiap selesai melakukan implementasi yang dibuat setiap hari sedangkan evaluasi sumatif / evaluasi hasil dibuat sesuai dengan tujuan yang dibuat mengacu pada kriteria hasil yang diharapkan.

BAB II
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Tn. S
DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN
DIAGNOSA MEDIS HIL POST OP
DI RUANG BEDAH RSUD M.A. SENTOT PANTURA

A PENGKAJIAN
1. Identitas/Biodata
1. Biodata 2. Data Penanggung Jawab
Nama : Tn. S Nama : Tn. T
Umur : 60 tahun Umur : 30 tahun
Suku bangsa : Indonesia Suku : Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : – Pendidikan : SD
Pekerjaan : Tani Pekerjaan : Tani
Alamat : Ds. Haurgeulis Alamat : Haurgeulis
Kec. Haurgeulis Kec. Haurgeulis
Tgl. Masuk RS : 4/11/2009 Hubungan : Anak
Tgl. Dikaji : 5/11/2009
Diagnosa Medis : HIL
No. RM : 17175
Dr. Penanggungjawab : dr. Wahyu

2. Riwayat Kesehatan
b. Keluhan utama
Klien mengeluh sakit setelah operasi
c. Riwayat kesehatan sekarang
Klien dioperasi tanggal 8/11/2009 masuk ruang operasi jam 14.00 s.d. 17.00
P= nyeri lipatan paha
Q= nyeri seperti ditusuk
R= nyeri pada daerah lipatan paha kiri
S= nyeri dengan sekala 3
T= terus menerus
d. Riwayat kesehatan masa lalu
Penyakit masa lalu : klien belum pernah menderita penyakit serupa, klien tidak menderita penyakit menular
Alergi: tidak menderita alergi
Kebiasaan (merokok, minum kopi, dll) : minum kopi

e. Keadaan kesehatan keluarga
Orang tua, Saudara kandung, Anggota keluarga lain tidak menderita penyakit yang sama, begituupun penyakit menular tiadak ada yang menderita.

f. Keadaan psikologis
Selama dirawat klien menunjukan sifat yang posituf koperatiaf dengan perawat,

g. Keadaan Sosial ekonomi
Status ekonomi : penghasilan klien dari tani
Kegiatan rekreasi : jarang dilakukan
Bahasa komunikasi : bahasa Jawa
Hubungan dengan keluarga : baik
Kegiatan masyarakat : akrab dengan tetangganya

h. Keadaan Spiritual
Klien mengatakan hidup dilingkungan yang agamis, sebagai seorang muslim klien yakin dan percaya terhadap Allah Swt. klien mengatakan bahwa penyakit yang dideritanya adalah ujian dari Tuhan

i. Pola Kehidupan sehari-hari

No Kegiatan sehari-hari Di rumah Di rumah sakit
1. Makan dan Minum
j. Makan
• Frekwensi
• Jenis makanan
• Makanan yang disukai
• Makanan yang tidak disukai
• Makanan pantangan
• Tujuan/alasan pantangan
• Gangguan makanan
• Cara mengatasi
• Diet khusus
k. Minum
• Jumlah intake
• Jenis

2 kali sehari
Nasi, lauk, sayur
Nasi lengko
Daging
Tidak ada
6-8 gelas/hari
Air putih, kopi, teh

3 kali sehari
Nasi, lauk, sayur


Tidak ada
8-10 gelas/hari
Air putih, susu
2. Pola elimenasi
c. BAK
• Frekwensi
• Jumlah
• Warna
• Gangguan/keluhan
• Cara mengatasi
d. BAB
• Frekwensi
• Konsistensi
o Gangguan/keluhan
o Cara mengatasi
5-6 kali/hari
kuning jernih
1x/hr
lembek
Dipasang kateter
1500 cc/hr
kuning jernih
1x/hr
lembek
3. Istirahat dan tidur
a. Lama tidur
– malam
– siang
b. Gangguan Tidur
c. Cara Mengatasi
d. Kebiasaan tidur
5-6 jam/hari
Tidak pernah


mendekur

5-6 jam/hari
2 jam


mendekur
4. Personal hygine
f. Frekwensi Mandi tiap hari
g. Cara mandi
h. Frekwensi sikat gigi
i. Frekwensi mencuci rambut tiap minggu
j. Kebiasaan gunting kuku
2X/hari
mandiri
2X/seetiap mandi
2x/minggu

1x/minggu
2X/hari
Dibantu
2x pagi dan sore
5. Aktivitas
d. Gangguan dalam pergerakan/berjalan
e. Alasan/penyebab
f. Cara mengatasi
Normal
Bedrest

post op
Dibantu perawat
6. Sexual
d Frekwensi
e Alasan/penyebab
f Cara mengatasi
2x/minggu

3. Pemeriksaan Fisik
a Keadaan Umum : lemah
b Tanda-tanda vital : TD=110/70 mmHg S= 36,9oC N= 76x/mt R= 18x /mt
c Sistem Pencernaan
bentuk bibir simetris, terdapat luka operasi, mukosa mulut normal, muntah tidak ada, menelan/mengunyah baik, bentuk perut normal, BU normal, benjolan tidak ada, pembesaran hepar tidak ada
d Sistem Pernafasan
hidung simetris, pernafasan cuping hidung tidak ada, perdarahan hidung tidak ada, bentuk dada simetris, batuk tidak ada. Frekwensi pernafasan 18x/menit. wheezing tidak ada, nyeri sinus tidak ada nyeri dada tidak ada
e Sistem cardiovaskuler
konjungtiva tidak anemis, edema tidak ada, tekanan darah 110/70 mmHg, akral hangat, nyeri dada tidak ada
f Sistem integumen
kulit bersih, turgor kulit baik, luka/lesi post op, eritema tidak ada,
g Sistem persyarafan
kesadaran lemah, kepala simetris, edema tidak ada, mata simetris, pergerakan bola mata normal,
h Sistem endokrin
pertumbuhan dan perkembangan fisik normal, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
i Sistem muskuloskeletal
deformitas, fraktur tidak ada, atrofi tidak ada, pembesaran tulang tidak ada.
j Sistem reproduksi
pembengkakan tidak ada, benjolan tidak ada, ukursn penis normal, ukuran scrotum normal, warna hitam kecoklatan, nyeri scrotum tidak ada,
k Sistem perkemihan
terpasang kateter,warna urine kuning jernih, nyeri tekan tidak ada, nyeri pinggang tidak ada

4. Pemeriksaan Penunjang
Tgl./ Jam Jenis Hasil Normal Interpretasi
14/11/09 Hb
Leucosit
Hematokrit
Trobosit 14 g%
8600 / mm3
43 %
264.000 / mm3 12-16 g%
10.000 / mm3
35%-48%
150.000-400.000 mm3 Dalam batas normal
kurang
Dalam batas normal Dalam batas normal

5. Therapi
1. Pasang DC , pasang infus NaCl 0.9% 20 gtt/menit
2. obat : Ceptriaxone 1×1 gr, Ranitin 2×1 amp, torasik 3×1

6. Analisa Data
DATA ETIOLOGI PROBLEM
DS: klien mengeluh nyeri pada daerah luka operasi
DO: klien terlihat meringis, terdapat luka operasi, sekala nyeri 3 dalam rentang (0-4) Adanya luka Pos Op

Terputusnya kontinuitas jaringan

Merangsang bradikinin dan serotin

Hipotalamus

Kortek serebri

Nyeri dipersepsikan Gangguan rasa nyaman nyeri
DS: klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas
DO: klien tampak lemah, klien bedrest, aktivitas klien dibantu
Adanya luka Pos Op

Nyeri

Klien tidak dapat melakukan aktivitas

Aktivitas terganggu Gangguan pola aktivitas
DS: klien mengatakan sudah dioperasi
DO:, adanya luka operasi pada daerah perut bawah Luka incisi post op

bufer pertahanan terganggu

tempat masuknya kuman patogen melalui luka Resiko infeksi

B DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adaya luka post operasi ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada daerah luka operasi, klien terlihat meringis, terdapat luka operasi, sekala nyeri 3
2. Gangguan perubahan pola aktivitas berhubungan dengan nyeri daerah luka operasi ditandai dengan klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas, klien tampak lemah, klien bedrest, aktivitas klien dibantu
3. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka incisi post operasi

C PERENCANAAN
Diagnosa keperawatan Perencanaan
Tujuan Intervensi Rasional
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan
DS: klien mengeluh nyeri pada daerah luka operasi
DO: klien terlihat meringis, terdapat luka operasi, sekala nyeri 3 dalam rentang (0-4) Gangguan rasa nyaman nyeri teratasi dalam waktu 1 hari dengan kriteria:
– nyeri berkurang
– klien tidak meringis • kaji tingkat nyeri
• observasi tanda-tanda vital
• ajarkan tehnik relaksasi
• kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi analgetik • mengkaji tingkat nyeri dan observasi tanda vital dapat mengetahui perkembangan dan tindakan selanjutnya
• Tehnik relaksasi akan mengurangi rasa nyeri
• Pemberian obat tidak terjadi kesalahan
Gangguan perubahan pola aktivitas berhubungan dengan
DS: klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas
DO: klien tampak lemah, klien bedrest, aktivitas klien dibantu Gangguan pola aktivitas teratasi dalam 1 hari dengan kriteria:
– klien dapat melakukan aktivitas secara bertahap tanpa bantuan keluarga • Bantu klien untuk miring kanan-miring kiri
• Berikan penjelasan tentang pentingnya mobilisasi • Mobilisasi dapat mencegah luka decubitus
• Agar klien mengerti tentang pentingnya mobilisasi
Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka incisi post operasi
Tidak adanya tanda-tanda infeksi dalam waktu 48 jam dengan kriteria:
tidak ada pus, odema tidak ada, tidak ada peningkatan suhu tubuh.
• Observasi tanda-tanda infeksi
• Pertahankan tehnik septik dan antiseptik dalam merawat luka
• Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik • mengetahui perkembangan dan tindakan selanjutnya
• perawatan luka secara steril dapat mencegah terjadinya infeksi
• supaya tidak terjadi kesalahan pemberian obat yang tepat dan benar sesuai petunjuk dokter

D IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
Hari/Tgl./Jam Diagnosa perawatan Tindakan Evaluasi/Catatan Perkembangan
Kamis, 5-11-2009 (1) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan
DS: klien mengeluh nyeri pada daerah luka operasi
DO: klien terlihat meringis, terdapat luka operasi, sekala nyeri 3 dalam rentang (0-4) • mengkaji tingkat nyeri
• mengobservasi tanda-tanda vital (TD, S, N, R)
• mengajarkan tehnik relaksasi/distraksi
• melakukan kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi analgetik S: klien mengatakan nyeri masih terasa
O: klien meringis apabila daerah nyeri ditekan, luka masih basah
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi,
• kaji tingkat nyeri
• observasi tanda-tanda vital
• ajarkan tehnik relaksasi/distraksi
• kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi

Gangguan perubahan pola aktivitas berhubungan dengan
DS: klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas
DO: klien tampak lemah, klien bedrest, aktivitas klien dibantu
• membantu klien untuk miring kanan-miring kiri
• memberikan penjelasan tentang pentingnya mobilisasi S: klien mengatakan mampu bergerak masih terbatas
O: klien bisa miring kiri-kanan
A: masalah teratasi sebagian
P: intervensi dilanjutkan:
• Bantu klien dalam melakukan aktivitas
Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka incisi post operasi
• mengobservasi tanda-tanda infeksi
• melakukan tehnik septik dan antiseptik dalam merawat luka
• melakukan Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik S: klien mengatakan tidak merasakan panas badan
O: tidak ada tanda-tanda infeksi
A: masalah teratasi
P: intervensi dilanjutkan;
• Observasi tanda-tanda infeksi
• Pertahankan tehnik septik dan antiseptik dalam merawat luka
• Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik
Jum’at, 15-11-2009 (1) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan
DS: klien mengatakan nyeri masih terasa pada daerah luka operasi
DO: klien terlihat meringis, terdapat luka operasi, sekala nyeri 2 dalam rentang (0-4) • mengkaji tingkat nyeri
• mengobservasi tanda-tanda vital
• mengajarkan tehnik relaksasi
• melakukan kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi S: klien mengatakan nyeri masih sedikit terasa
O: klien meringis apabila daerah nyeri ditekan, luka masih sedikit basah
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi,
• kaji tingkat nyeri
• observasi tanda-tanda vital
• ajarkan tehnik relaksasi
• kolaborasi tim medis dalam pemberian therapi

Gangguan perubahan pola aktivitas berhubungan dengan
DS: klien mengatakan bisa melakukan aktivitas masih terbatas
DO: aktivitas klien dibantu
• membantu klien dalam melakukan aktivitas
S: klien mengatakan mampu bergerak
O: klien bisa melakukan aktivitas dengan sedikit bantuan
A: masalah teratasi sebagian
P: intervensi dilanjutkan:
• Bantu klien dalam melakukan aktivitas
Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka incisi post operasi
• mengobservasi tanda-tanda infeksi
• melakukan tehnik septik dan antiseptik dalam merawat luka
• melakukan Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik S: klien mengatakan tidak merasakan panas badan
O: tidak ada tanda-tanda infeksi
A: masalah teratasi
P: intervensi dilanjutkan;
• Observasi tanda-tanda infeksi
• Pertahankan tehnik septik dan antiseptik dalam merawat luka
• Kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik

BAB III
KESIMPULAN

Hernia inguinalis adalah terjadinya penonjolan isi rongga abdomen melalui annulus inguinalis interna mengikuti apermatid cordi di kanale ingunalis kemudian keluar melalui annulus inguinalis eksterna sehingga terdapat benjolan di daerah inguinalis.
Gejala Hernia inguinalis adanya benjolan dilipat paha yang timbul hilang. Muncul saat penderita berdiri, batuk, bersin, mengedan atau mengangkat barang berat dan menghilang saat penderita berbaring.
Kala ditinjau dari kasus Tn. S dengan keluhan utama Klien mengeluh benjolan di lipatan paha kiri, sejak 3 hari yang lalu. Setelah dilakukan pemeriksaan dokter, klien diputuskan untuk dilakukan operasi.
Dari hasil pengkajian kasus Tn. S dengan post op Hernia Inguinalis Lateralis didapat prioritas diagnosa perawatan antara lain:

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adaya luka post operasi ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada daerah luka operasi, klien terlihat meringis, terdapat luka operasi, sekala nyeri 3
2. Gangguan perubahan pola aktivitas berhubungan dengan nyeri daerah luka operasi ditandai dengan klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas, klien tampak lemah, klien bedrest, aktivitas klien dibantu
3. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka incisi post operasi

Kalau dilihat dari catatan perkembangan pasien pada kasus Tn. S dengan post op Hernia Inguinalis Lateralis dalam dua hari kondisi klien membaik, klien mengatakan nyeri berkurang, klien bisa melakukan aktivitas walaupun terbatas, tidak ada tanda-tanda infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

Marilynn E. Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien, ed.3. EGC, Jakarta.
Diambil dari http:// andisetiadi.blogspot.com/2008/03 asuhan keperawatan hernia
Diambil dari http:// khaidirmuhaj. Blogspot.com/2008/12/askephernia
Sabiston. Buku ajar bedah(Essentials of surgry. Bagian 2, cetakan I : Jakarta, penerbit buku kedokteran EGC. 1994.
Sjamsuhidayat.R & Wim de jong. Buku ajar ilmu bedah.edisi revisi.Jakarta : penerbit buku kedokteran EGC, 1997.
Schwartz. et al.intisari prinsip-prinsip ilmu bedah.Ed. 6. jakarta: penerbit buku kedokteran EGC, 2000.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s