KONSEP DASAR DIARE

Juniartha Semara Putra

KONSEP DASAR DIARE
2.1 DEFINISI
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah yinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 cc/jam tinja). Dengan tinja berbentuk cair /setengan padat, dapat disertai frekuensi yang meningkat. Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer lebih dari 3 x sehari. Diare terbagi 2 berdasarkan mula dan lamanya , yaitu diare akut dan kronis (Mansjoer,A.1999,501).
2.2 ETIOLOGI
1.      Faktor infeksi: Bakteri (Shigella, Shalmonella, Vibrio kholera), Virus (Enterovirus), parasit (cacing), Kandida (Candida Albicans).
2.      Faktor parentral : Infeksi dibagian tubuh lain (OMA sering terjadi pada anak-anak).
3.      Faktor malabsorbsi: Karbihidrat, lemak, protein.
4.      Faktor makanan: Makanan basi, beracun, terlampau banyak lemak, sayuran dimasak kutang matang.
5.      Faktor Psikologis: Rasa takut, cemas.


2.4 PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1.      Identitas
Perlu diperhatikan adalah usia. Episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Insiden paling tinggi adalah golongan umur 6-11 bulan. Kebanyakan kuman usus merangsang kekebalan terhadap infeksi, hal ini membantu menjelaskan penurunan insidence penyakit pada anak yang lebih besar. Pada umur 2 tahun atau lebih imunitas aktif mulai terbentuk. Kebanyakan kasus karena infeksi  usus asimptomatik dan kuman enteric menyebar terutama klien tidak menyadari adanya infeksi. Status ekonomi juga berpengaruh terutama dilihat dari pola makan dan perawatannya .
2.      Keluhan Utama
BAB lebih dari 3 x
3.      Riwayat Penyakit Sekarang
BAB warna kuning kehijauan, bercamour lendir dan darah atau lendir saja. Konsistensi encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran : 3-5 hari (diare akut), lebih dari 7 hari ( diare berkepanjangan), lebih dari 14 hari (diare kronis).
4.      Riwayat Penyakit Dahulu
Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau kortikosteroid jangka panjang (perubahan candida albicans dari saprofit menjadi parasit), alergi makanan, ISPA, ISK, OMA campak.
5.      Riwayat Nutrisi
Pada anak usia toddler makanan yang diberikan seperti pada orang dewasa, porsi yang diberikan 3 kali setiap hari dengan tambahan buah dan susu. kekurangan gizi pada anak usia toddler sangat rentan,. Cara pengelolahan makanan yang baik, menjaga kebersihan dan sanitasi makanan, kebiasan cuci tangan,
6.      Riwayat Kesehatan Keluarga
Ada salah satu keluarga yang mengalami diare.
7.      Riwayat Kesehatan Lingkungan
Penyimpanan  makanan pada suhu kamar, kurang menjaga kebersihan, lingkungan tempat tinggal.
8.      Riwayat Pertumbuhan dan perkembangan
a.       Pertumbuhan
o   Kenaikan BB karena umur 1 –3 tahun berkisar antara 1,5-2,5 kg (rata-rata 2 kg),  PB 6-10 cm (rata-rata 8 cm) pertahun.
o   Kenaikan linkar kepala : 12cm ditahun pertama dan 2 cm ditahun kedua dan seterusnya.
o   Tumbuh gigi 8 buah : tambahan gigi susu; geraham pertama dan gigi taring, seluruhnya berjumlah 14 – 16 buah
o   Erupsi gigi : geraham perama menusul gigi taring.
b.      Perkembangan
o   Tahap perkembangan Psikoseksual menurut Sigmund Freud.
Fase anal :
Pengeluaran tinja menjadi sumber kepuasan libido, meulai menunjukan keakuannya, cinta diri sendiri/ egoistic, mulai kenal dengan tubuhnya, tugas utamanyan adalah latihan kebersihan, perkembangan bicra dan bahasa (meniru dan mengulang kata sederhana, hubungna interpersonal, bermain).
o   Tahap perkembangan psikososial menurut Erik Erikson.
Autonomy vs Shame and doundt
Perkembangn ketrampilan motorik dan bahasa dipelajari anak toddler dari lingkungan dan keuntungan yang ia peroleh Dario kemam puannya untuk mandiri (tak tergantug). Melalui dorongan orang tua untuk makan, berpakaian, BAB sendiri, jika orang tua terlalu over protektif menuntut harapan yanag terlalu tinggi maka anak akan merasa malu dan ragu-ragu seperti juga halnya perasaan tidak mampu yang dapat berkembang pada diri anak.
o   Gerakan kasar dan halus, bacara, bahasa dan kecerdasan, bergaul dan mandiri : Umur 2-3 tahun :
1.      berdiri  dengan satu kaki tampa berpegangan sedikitpun  2 hitungan (GK)
2.      Meniru membuat garis lurus (GH)
3.      Menyatakan keinginan   sedikitnya dengan dua kata (BBK)
4.      Melepasa pakaian sendiri (BM)
9.      Pemeriksaan Fisik
a.       pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan mengecil, lingkar kepala, lingkar abdomen membesar,
b.      keadaan umum : klien lemah, gelisah, rewel, lesu, kesadaran menurun.
c.       Kepala : ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada anak umur 1 tahun lebih
d.      Mata : cekung, kering, sangat cekung
e.       Sistem pencernaan : mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltic meningkat > 35 x/mnt, nafsu makan menurun, mual muntah, minum normal atau tidak haus, minum lahap dan kelihatan haus, minum sedikit atau kelihatan bisa minum
f.       Sistem Pernafasan : dispnea, pernafasan cepat > 40 x/mnt karena asidosis metabolic (kontraksi otot pernafasan)
g.      Sistem kardiovaskuler : nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah, tensi menurun pada diare sedang .
h.       Sistem integumen : warna kulit pucat, turgor menurun > 2 dt, suhu meningkat > 375 0 c, akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary refill time memajang > 2 dt, kemerahan pada daerah perianal.
i.        Sistem perkemihan : urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/ 24 jam ), frekuensi berkurang dari sebelum sakit.
j.        Dampak hospitalisasi : semua anak sakit yang MRS bisa mengalami stress yang berupa perpisahan, kehilangan waktu bermain, terhadap tindakan invasive respon yang ditunjukan adalah protes, putus asa, dan kemudian menerima.
10.  Pemeriksaan Penunjang
1)         Laboratorium :
·            feses kultur : Bakteri, virus, parasit, candida
·            Serum elektrolit : Hipo natremi, Hipernatremi, hipokalemi
·            AGD : asidosis metabolic ( Ph menurun, pO2 meningkat, pcO2 meningkat, HCO3 menurun )
·            Faal ginjal : UC meningkat (GGA)
2)         Radiologi : mungkin ditemukan bronchopemoni
2.5 PENATALAKSANAAN DIARE
2.5.1        Rehidrasi
1.      jenis cairan
1)      Cara rehidrasi oral
o   Formula lengkap (NaCl, NaHCO3, KCl dan Glukosa)
                    seperti orali, pedyalit setiap kali diare.
o   Formula sederhana ( NaCl dan sukrosa)
2)      Cara parenteral
o  Cairan I  : RL dan NS
o  Cairan II : D¼ salin,nabic. KCL
      D5 : RL = 4 : 1  + KCL
      D5 + 6 cc NaCl 15 % + Nabic (7 mEq/lt) + KCL
o  HSD (half strengh darrow) D ½  2,5 NS cairan khusus pada diare usia > 3 bulan.
2.      Jalan pemberian
1)      Oral  (dehidrasi sedang, anak mau minum, kesadaran baik)
2)      Intra gastric ( bila anak tak mau minum,makan, kesadran menurun)
3.      Jumlah Cairan ; tergantung pada :
1)      Defisit ( derajat dehidrasi)
2)      Kehilangan sesaat (concurrent less)
3)      Rumatan (maintenance).
4.      Jadwal / kecepatan cairan
1)      Pada anak usia 1- 5 tahun dengan pemberian 3 gelas bila berat badanya kurang lebih 13 kg : maka pemberianya adalah :
o   BB (kg) x 50 cc
o   BB (kg) x 10 – 20 = 130 – 260 cc setiap diare = 1 gls.
2)      Terapi standar pada anak dengan diare sedang :
+ 50 cc/kg/3 jam  atau 5 tetes/kg/mnt
2.5.2        Terapi
1.      obat anti sekresi : Asetosal, 25 mg/hari dengan dosis minimal 30 mg
klorpromazine 0,5 – 1 mg / kg BB/hari
2.      onat anti spasmotik : Papaverin, opium, loperamide
3.      antibiotik :  bila penyebab jelas, ada penyakit penyerta
2.5.3        Dietetik
a.         Umur > 1 tahun dengan BB>7 kg, makanan  padat / makanan cair atau susu
b.         Dalam keadaan malbasorbsi berat serta alergi protein susu sapi dapat diberi elemen atau semi elemental formula.
2.5.4        Supportif
Vitamin A 200.000. IU/IM, usia 1 – 5 tahun
2.6 DIAGNOSA KEPERAWATAN
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN
RENCANA TINDAKAN
1.Gangguan keseimbangan
   cairan dan elektrolit
   berhubungan dengan
   kehilangan cairan
   skunder terhadap diare
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
3                x 24 jam keseimbangan cairan dan elektrolit kembali normal
Kriteria:
◊ Tanda vital dalam batas
   normal (N: 60-120x/mnt,
   S: 36-37ºC,
   RR :< 30x/mnt).
◊ Turgor elastic, membran
   mukosa bibir basah,
   mata tidak cowong,
   ubun-ubun tidak cekung.
◊ Konsistensi BAB
   lembek, frekwensi
   normal ( 1 kali sehari )
◊ Pantau tanda dan gejala
   kekurangan cairan dan
   elektrolit R/ Penurunan
   sirkulasi volume cairan
   menyebabkan
   kekeringan mukosa dan
   pemekatan urine.
   Deteksi dini
   memungkinkan terapi
   pengantian cairan segera
   untuk memperbaiki
   deficit.
◊ Pantau intake dan output
   R/ dehidrasi dapat
   meningkatkan laju
   filtrasi glomerulus
   membuat keluaran tidak
   adekuat untuk
   membersihkan sisa
   metabolisme
◊ Timbang berat badan
   pasien setiap hari.
   R/mendeteksi kehilangan
   cairan, penurunan 1 kg
   BB sama dengan
   kehilangan cairan 1 liter.
◊ Anjurkan keluarga untuk
   memberikan minum
   banyak pada pasien
   (2- 3lt/hr). R/ Mengganti
   cairan dan elektrolit
   yang hilang secara oral
◊ Kolaborasi:
-Pemeriksaan laboratorium
 serum elektrolit
 (N,K,Ca,BUN).
 R/ koreksi keseimbangan
 cairan dan elektrolit, BUN
 untuk mengetahui faal
 ginjal (kompensasi).
-Cairan perenteral
 (IV line) sesuai dengan
 umur. R/ mengganti
 cairan dan elektrolit
 secara adekuat dan cepat.
◊Obat-obatan (antisekresi, antispasmolitik, antibiotik) R/ antisekresi untuk
 menurunkan sekresi
 cairan dan elektrolit agar
 seimbang, antispasmolitik
 untuk proses absorbsi
 normal, antibiotik sebagai
 anti bakteri berspektrum
 luas untuk menghambat
 endotoksin.
2.Perubahan nutrisi kurang
   dari kebutuhan tubuh
   berhubungan dengan
   tidak adekuat intake dan
   output
Tujuan:
 Setelah dilakukan
 tindakan keperawatan
 selama dirawat dirumah
 sakit kebutuhan nutrisi
 terpenuhi.
Kriteria:
– Nafsu makan meningkat.
– BB meningkat atau
  normal sesuai umur.
◊Diskusikan dan jelaskan
 tentang pembatasan diet
 (makanan berserat tinggi,
 berlemak dan air terlalu
 panas atau dingin).
R/ Serat tinggi, lemak, air
 terlalu panas atau dingin
 dapat merangsang iritasi
 lambung dan saluran usus.
◊Ciptakan lingkungan
  yang bersih, jauh dari bau
  yang tak sedap atau
 sampah, sajikan makanan
 dalam keadaan hangat.
 R/ situasi yang nyaman
 dan rileks akan
 merangsang nafsu makan.
◊Berikan jam istirahat
  (tidur) serta kurangi
  kegiatan yang berlebihan.
  R/ mengurangi
  pemakaian energi yang
  berlebihan.
◊Monitor intake dan
 output dalam 24 jam.
R/ mengetahui jumlah
 output dapat
 merencanakan jumlah
 makanan / cairan yang
 dibutuhkan.
◊Kolaborasi:
– Terapi gizi: diet TKTP
  rendah serat.
3.Resiko peningkatan suhu
   tubuh berhubungan
   dengan proses infeksi
   sekunder dampak dari
   diare.
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan
 keperawatan selama
 3 x 24 jam tidak terjadi
 peningkatan suhu tubuh.
Kriteria:
– Suhu tubuh dalam batas
  normal (36-37.5ºC).
– Tidak tampak tanda-
   tanda infeksi
◊Monitor /periksa suhu
  tubuh setiap 2-4jam.
  R/ deteksi dini terjadinya
  perubahan abnormal
  fungsi tubuh (adanya
  infeksi).
◊Berikan kompres hangat.
  R/ merangsang pusat
  pengaturan panas untuk
  menurunkan produksi
  panas tubuh.
◊Kolaborasi pemberian
  antipirektik.
  R/ merangsang pusat
  pengatur panas di otak
4.Resiko gangguan
   integritas kulit perianal
   berhubungan dengan
   peningkatan frekwensi
   BAB (diare).
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan
 keperawatan selama
 dirawat di rumah sakit
 integritas kulit tidak
 terjadi.
Kriteria:
– Tidak terjadi iritasi di
  perianal: kemerahan,
  lecet, kebersihan tarjaga.
– Keluarga mampu
  Mendemontrasikan cara
  Kebersihan/perawatan
  perianal dengan baik dan
  benar.
◊Demontrasikan serta
  libatkan keluarga pasien
  dalam merawat
  kebersihan perianal (ganti
  pakaian dalam / popok
  serta alasnya bila basah /
  kotor dan oleskan salep /
  kream / lotion sekitar
  pantat / bokong pasien).
  R/ mencegah terjadinya
  iritasi kulit yang tidak
  diharapkan olek karena
  kelembaban dan
  keasaman feces.
◊Atur posisi tidur atau
 duduk setiap 2-3 jam
 (pada pasien yang tidak
 dapat bergerak sendiri).
 R/ melancarkan
 vaskulerisasi, mengurangi
 penekanan yang lama
 sehingga tidak terjadi
 iskemia dan iritasi kulit.
◊Diskusikan / terangkan
  pentingnya menjaga
  kebersihan (cuci tangan
 sebelum dan sesudah
 menolong pasien BAB)
  R/ kebersihan mencegah
  berkembang biaknya
  kuman
5.Kecemasan anak
   berhubungan dengan
   tindakan invasive.
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan
 keperawatan selama
24 jam pasien mampu /
 dapat beradaptasi.
Kriteria:
– Pasien mau menerima
  tindakan keperawatan
  yang diberikan.
– Pasien tampak tenang
  tidak takut / rewel
◊Libatkan keluarga dalam
  melakukan tindakan
  keperawatan.
  R/ pendekan awal pada
  anak melalui ibu atau
  keluarga.
◊Berikan pujian setelah
  pasien mau menerima
  tindakan perawatan dan
  pengobatan yang
  diberikan. R/ menambah
  rasa percaya diri anak
  akan keberanian dan
  kemampuannya.
◊Hindari persepsi yang
  salah tentang perawat,
  dokter dan RS.
  R/ mengurangi rasa takut
  pada perawat, dokter dan
  lingkungan RS.
◊Lakukan kontak sesering
  mungkin dan lakukan
  komunikasi baik verbal
  maupun non verbal
  (sentuhan, belaian,
  berikan mainan, dll).
  R/ kasih sayang serta
  pengenalan diri perawat
  akan menunbuhkan rasa
  aman pada pasien.


DAFTAR PUSTAKA
Bates. B, 1995. Pemeriksaan Fisik & Riwayat Kesehatan.  Ed 2. EGC. Jakarta
Carpenitto.LJ. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Ed 6. EGC. Jakarta.
Lab/ UPF IKA, 1994.  Pedoman Diagnosa dan Terapi .  RSUD Dr. Soetomo. Surabaya.
Markum.AH. 1999. Ilmu Kesehatan Anak. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
Ngastiyah. 1997.  Perawatan Anak sakit. EGC. Jakarta
Soetjiningsih, 1995.  Tumbuh Kembang Anak. EGC. Jakarta
Suryanah,2000.  Keperawatan Anak.  EGC. Jakarta
Doengoes,2000. Asuhan Keperawatan Maternal/ Bayi. EGC. Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s