ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI

Juniartha Semara Putra

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI
I. PENGKAJIAN
1.    Biodata Pasien
·                     Nama                           :
·                     Alamat                                    :
·                     Umur                           :
·                     Jenis kelamin               :
·                     Tingkat penidikan       :
2.   Riwayat Keperawatan
         Data sosial dan ekonomi
o   Penghasilan, LB budaya, Agama, pendidikan
         Pengetahuan ttg cara mengelola makanan
         Aktivitas fisik
o   Pekerjaan : jenis dan jumlah jam kerja
o   Olahraga : jenis dan frekuensi
         Nafsu makan
o   Pengecapan dan penciuman
         Alergi makanan yg dihindari & diet khusus
·                                             Makanan yg dihindari dan penyebab
         Diet khusus : jenis mengapa, siapa yang menganjurkan
         Masalah gastrointestinal
o             Nyeri ulu hati, lambung, diare, muntah,konstipasi  frekuensi, pencetus
o             Pemakaian obat : pencahar, antasid
         Kesehatan mulut/ kemampuan menelan
o             Kelengakapan gigi
o             Masalah mengunyah, menelan
         Penyakit fisik
o             Jenis penyakit
o             Lama pengobatan
         Masukan makanan sehari-hari
         Perubahan BB baru-baru ini
         Peningkatan dan penurunan  disengaja? caranya


3.   Pengkajian Fisik
a.                              Pengukuran antropometri
         Pengukuran BB dan TB
         Pengukuran Lipatan Kulit TSF
         Pengukuran LLA
         Pengukuran LOLA
o   LOLA = LLA – (3,14 X TSF)
         Besar-kecil otot rangka
o   TB/ lingkar pergelangan tangan (cm)
                                                Wanita                    Pria
                         Kecil                > 11,0                  > 10,4
 Sedang           10,1 – 11,0           9,6 – 10,4
besar                < 10,1                   < 10,5
b.                  Observasi klinik
       Rambut  pudar, kering, mudah patah & dicabut, rontok
       Kepala dan leher  sakit kepala, epistaksis, pembesaran tiroid
       Mata
o   Xerosis (kering pd konjungtiva & Kornea)
o   konjungtiva pucat,  sklera biru
       Mulut  stomatitis anguler (sudut mulut), Glositis (Lidah merah dan sakit), Gingivitis, hipogeusia/disgeusia (pengecap berkurang / hilang)
       Kulit
o   Kering, bersisik, peteckia, ekimosis, sebore nasolabialis (bersisik diantara
hidung dan bibir), penyembuhan luka lama.
       Kuku  rapuh dan mudah pecah
       Abdomen  asites
o   Ekstremitas/ otot rangka : kehilangan masa otot, edema, nyeri tekan pada betis, nyeri pada persendian.
       Neurologi
o   Parestesia (sakit & perasaan geli/ sensasi yg berubah pd anggota gerak,
lemah, tremor, penurunan reflek tendon, mengantuk, depresi.
       Kardiovaskuler
o   HR meningkat, pembesaran jantung, irama tidak teratur, TD meningkat.
c.                   Pemeriksaan laboratorium
         Plasma protein
  Albumin           50% total protein serum
  Tranferin          Protein yg mengikat dan membawa zat besi
  Prealbumin       mengikat tiroksin
         Nilai Hemoglobin
         TLC (Total Limfosit Count)  Kekurangan zat gizi 
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
3.                  Kekurangn nutrisi (aktual/resiko) sehubungan dengan proses penyakit atau pengaruh terapi ttt.
                 a. penyempitan isofagus, ggn absorbsi
                 b. Jumlah sekresi hormon yg tidak memadai
                 c. Mual dan muntah yg kronik.
                 d. status puasa.
4.                   Perubahan nutrisi masukan lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan          a. masukan kalori  yg berlebihan
                 b. Kebiasaan makan yg banyak dan tidak teratur
5.                  Keterbatasan aktivitas s.d masukan kalori yg tidak memadai, obesitas, anemia karena defisiensi zat besi
III. PERENCANAAN
Tujuan utama memelihara agar kebutuhan nutrisi memadai.
1.                  Mencegah komplikasi-komplikasi masalah nutrisi
2.                  Status nutrisi memadai
1.      Mempertahankan BB ideal
2.      Mempertahankan status cairan
3.                  Menyusun menu yang disukai klien dengan kalori yang memadai
1.      Mengkonsumsi diet sesuai terapi
INTERVENSI
1.                  Meningkatkan /merangsang nafsu makan
–     Menghilangkan/mengurangi kondisi / gejala yg menyebabkan penurunan nafsu makan: menjaga kebersihan dan kesehatan kulit, memberikan analgetik dan antipiretik, menganjurkan istirahat untuk mengurangi kelelahan.
–     Memberikan makanan yg disukai sedikit demi sedikit dgn memperhatikan kalori dan kontraindikasi.
–     Membebaskan ruangan dari bau obat dan bau lain ygmenggangu nafsu makan
–     Menurunkan stress psikologi
2.                  Memberikan makanan sesuai dg penyakit khusus (diet ginjal, jantung, DM)
3.                  Konseling tentang manfaat nutrisi
4.                  Membantu pasien memenuhi kebutuhan Nutrisi
1.      Memberi makan secara oral.
2.      Nutrisi enteral dan parenteral
      5.   Perencanaan pulang
Pendidikan kesehatan tentang memperpersiapkan makanan (nilai gizi setiap jenis    makanan, cara memasak, diet pada penyakit ttt)
IV. EVALUASI
         Tergantung dari daignosa keperawatan
–     Pasien dapat makan sendiri
–     Kebutuhan energi klien dapat terpenuhi
–     BB berkurang 2 kg dalam 14 hari
–     BB berkurang 0,2 kg dalam 7 hari
–     Pasien dapat makan tanpa keluhan mual dan muntah
–     Komposisi bahan-bahan nutrisi esensial dalam diet seimbang.
         BB dalam batas normal
         Nilai-nilai laboratorium dalam batas normal
         Tidak ada tanda-tanda kelebihan atau kekurangan nutrisi
         Pengukuran antopometri
PEMBERIAN NUTRISI SECARA ENTERAL DAN PARENTERAL
1. ENTERAL :
Pemberian makanan secara langsung kedalam saluran pencernaan mll tube / melakukan satu insisi (perlukaan) pada area yg dituju.
 Melalui selang (tube) :NGT (Naso Gastric Tube, Gastrotomi,  Jejunostomi.
 Masalah yg sering ditemui: Masalah Osmolalitas, ketidakseimbangan elektrolit, komplikasi gastrointestinal, sikap ketergantungan krn pemberian makanan mll selang
Yang perlu diperhatikan dalam pemberian makan mll ngt
1.                  Posisi klien
☺   Duduk / tidur terlentang dgn posisi kepala 30 s.d 45 derajat.
2.                  Keadaan pipa
☺   Dibilas dengan air sebelum dan sesudah pemberian makanan
3.                  Posisi pipa
☺   Setiap akan memberikan makanan hrs dicek (dengan aspirasi cairan lambung)
4.                  Formula
☺   Untuk klien dirumah makanan blander cair dpt diberikan.
☺   Bila volume residu lebih 100 ml maka pemberian makanan harus ditunda.
5.                  Pemberian makan cair
☺   Bolus
·                     Ukuran pipa lebih besar
·                     Memberikan reflek makan yg normal, cocok untuk klien dirumah.
·                     u/ menghindari kelebihan isi lambung mak 250 – 300 ml dalam waktu 10 s.d 15 mnt (hrs tidak melebihi 30 cc / mnt)
·                     Suhu makanan sesui dgn suhu normal
☺   Intermiten / kontinyu
·                     Diberikan sesuai gravitasi / peristaltik pump selama 30 s.d 40 menit
·                     Lebih baik dari bolus karena akan menghasilkan volume residu lebih rendah dan mengurangi aspirasi.
·                     Kerugian hrs memakai formula dan mahal karena pipa flow care lebih mahal dan suhu makanan selama diberikan berkurang.
2. PARENTERAL
Pemberian makanan scr langsung mll injeksi sari-sari makanan ke dalam pembuluh darah vena.
 Terapi vena perifer
–     untuk memenuhi kebutuhan kalori minimal dalam jangka waktu pendek s.d 2 minggu, kebutuhan kalori dan protein tdk terlalu tinggi, intake oral tidak adekuat.
–     Indikasi : proses kelahiran abnormal, pembedahan, klien dgn gastroenteritis, klien yg tidak memadai dengan enteral (luka bakar derajat III&IV, sepsis)
–     Untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit digunakan terapi intravena NaCl, Dextrose 5 – 20%.
 Terapi Nutrisi Parentral total (TPN)
–     Terapi yg komplek dilakukan untuk memenuhi keperluan nutrisi mll intravena.
–     Larutan yg digunakan adalah larutan hiperosmolaritas (konsentrasi tinggi)
–     Tujuan : untuk memberikan kalori (protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral)
–     Diberikan mll pembuluh darah central yg memiliki aliran darah besar dan cepat (vena subklavia, vena jugularis).
–     Alasan
 Organ tubuh scr lansung dapat menerima dan menggunakan kalori, asam amoniak, asam lemak esensial, vitamin, mineral tanpa sisa.
 Saluran pencernaan dapat diistirahatkan
 Mempercepat proses pertumbuhan organ dan jaringan tubuh karena langsung memperoleh nutrisi dalan jumlah yang memadai
 Dapat meningkatkan BB, keseimbangan nitrogen +, mempercepat proses penyembuhan luka serta sintesis hormon dan enzim.
–     Indikasi :
       Bila masukan secara entral tidak memadai / kontraindikasi
–     Tidak diberikan pada, bila :
       Fungsi  pencernaan masih baik
       Fungsi pencernaan dapat berfungsi 7 s.d 10 hari
       Klein yang telah mengalami metastase tumor.
About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s