CONTOH KTI (KARYA TULIS ILMIAH) FRAKTUR KRURIS

CONTOH KTI (KARYA TULIS ILMIAH) FRAKTUR KRURIS

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh tekanan atau rudapaksa. Fraktur dibagi atas fraktur terbuka, yaitu jika patahan tulang itu menembus kulit sehingga berhubungan dengan udara luar, dan fraktur tertutup, yaitu jika fragmen tulang tidak berhubungan dengan dunia luar.

Berdasarkan data yang penyusun dapatkan dari medical record RSUD Dr.Soedarso Pontianak, jumlah klien dengan gangguan sistem muskuloskeletal terutama penderita Fraktur Cruris yaitu pada bulan Januari – Desember 2009 terdapat 260 kasus, dimana dari 175 kasus terjadi pada pria dan 85 kasus terjadi pada wanita. Sedangkan, pada bulan Januari – April 2010 terdapat 80 orang laki-laki serta 35 orang perempuan yang mengalami fraktur cruris.

Dengan demikian perawat harus mampu berpikir kritis dalam melakukan asuhan keperawatan yang komprehensif serta mampu mengidentifikasi masalah-masalah klien yang dirumuskan sebagai diagnosa keperawatan, mampu mengambil keputusan yang tepat dalam mengatasi masalah keperawatan yang di alami oleh klien, asuhan keperawatan yang di berikan secara holistik yaitu di lihat dari segi biofisikososial dan spiritual, serta mampu berkolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk memberi asuhan keperawatan yang optimal.

Berdasarkan data di atas penyusun merasa tertarik untuk mengangkat permasalahan fraktur dan menyusun laporan kasus tentang asuhan keperawatan pada Tn. S dengan gangguan sistem muskuloskeletal : fraktur cruris (tibia fibula) di ruang penyakit bedah umum pria (C) RSUD Dr. soedarso pontianak.

 

  1. B.    Tujuan Penyusunan
    1. Tujuan Umum

Tujuan umum penyusunan ini adalah :

  1. Memahami konsep dasar asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan Sistem Muskuloskeletal : Fraktur cruris.
  2. Memberikan gambaran dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan Sistem gangguan Sistem Muskuloskeletal: Fraktur cruris.
  3. Membandingkan antara konsep dasar yang terkait dengan penerapan asuhan keperawatan dengan klien gangguan Sistem gangguan Sistem Muskuloskeletal : Fraktur cruris.
  4. Mengetahui faktor Pendukung dan Penghambat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan gangguan Sistem Muskuloskeletal : Fraktur cruris.
  5. Memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Pendidikan D III Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Pontianak.
  6. Tujuan khusus

Secara khusus penyusunan ini bertujuan agar mahasiswa dapat

  1. Melakukan pengkajian pada klien fraktur.
  2. Menegakkan diagnosa keperawatan pada klien fraktur.
  3. Menyusun rencana keperawatan (intervensi) pada klien fraktur.
  4. Melakukan tindakan keperawatan (implementasi) pada klien fraktur.
  5. Melakukan evaluasi keperawatan pada klien fraktur.

 

  1. C.    Ruang Lingkup Penyusunan

  Pada laporan kasus ini penyusun hanya membatasi pada asuhan keperawatan pada Tn. S dengan gangguan sistem muskuloskeletal : fraktur cruris (tibia fibula) di ruang penyakit bedah umum pria (C) RSUD Dr. Soedarso Pontianak, dengan lama perawatan selama tiga hari dari tanggal 28 Juni 2010 sampai dengan 30 Juni 2010.

 

 

  1. D.    Metode Penyusunan

Dalam penyusunan laporan kasus ini penyusun menggunakan metode deskriptif yaitu metode yang menggambarkan situasi tertentu yang ada pada saat ini berdasarkan masalah yang ada. Adapun cara-cara pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut :

  1. Studi kepustakaan yaitu mempelajari buku-buku dan sumber-sumber lainnya untuk mendapatkan dasar-dasar ilmiah yang berhubungan dengan permasalahan dalam laporan kasus ini.
  2. Studi kasus yaitu wawancara dengan klien beserta keluarga serta pemeriksaan fisik yang dilakukan melalui inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi dan mempelajari sumber yang diperoleh dari catatan medis, catatan keperawatan, melakukan observasi partisipatif yaitu melakukan pengamatan, merawat langsung klien serta bekerja sama dengan tim kesehatan lain dalam memberikan keperawatan.

 

  1. E.    Sistematika Penyusunan

Laporan kasus ini terdiri dari lima bab yang disusun dengan sistematika sebagai berikut :

BAB I             : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan penyusunan, ruang lingkup penyusunan, metode penyusunan dan sistematika penyusunan.

BAB II            : Landasan teoritis yang terdiri dari anatomi fisiologi sistem muskuloskeletal, konsep dasar fraktur cruris (tibia fibula) dan  asuhan keperawatan pada klien dengan fraktur.

BAB III          : Laporan kasus yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

BAB IV          : Pembahasan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

BAB V            : Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran. 

BAB II

LANDASAN TEORITIS

Pada bab ini penulis akan menguraikan landasan teoritis yang terdiri dari anatomi fisiologi sistem muskuloskeletal khususnya pada klien dengan Fraktur Cruris (tibia fibula).

 

  1. A.     Anatomi dan Fisiologi Sistem Muskuloskeletal

Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan mengurus pergerakan. Komponen utama sistem muskuloskeletal adalah jaringan ikat yang terdiri dari atas tulang, sendi, otot rangka, tendon, ligamen, bursa, dan jaringan khusus yang menghubungkan struktur-struktur ini.

Tulang manusia saling berhubungan satu dengan yang lain dalam berbagai bentuk untuk memperoleh fungsi sistem muskuloskeletal yang optimal. Aktivitas gerak tubuh manusia bergantung pada efektifnya interaksi antara sendi yang normal dengan unit-unit neuromuskular yang menggerakannya. Elemen tersebut juga berinteraksi untuk mendistribusikan stres mekanik ke jaringan sekitar sendi. Struktur tulang memberikan perlindungan terhadap organ vital, termasuk otak, jantung dan paru-paru. (Lukman dan Ningsih. 2009 ; 2)

Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan menjadi tempat melekatnya otot-otot yang menggerakan kerangka tubuh dan membentuk jaringan yang terstruktur dengan baik. (Muttaqin, 2008 ; 2)

  1. Fungsi tulang

Tulang adalah jaringan yang terstruktur dengan baik dan mempunyai lima fungsi utama (Muttaqin. 2008 ; 2-3), yaitu

  1. Membentuk rangka badan
  2. Sebagai pengumpil dan tempat melekat otot
  3. Sebagai bagian dari tubuh untuk melindungi dan mempertahankan alat-alat dalam (seperti otak, sumsum tulang belakang, jantung dan paru-paru)
  4. Sebagai tempat mengatur dan deposit kalsium, fosfat, magnesium, dan garam
  5. Ruang di tengah tulang tertentu sebagai organ yang mempunyai fungsi tambahan lain, yaitu sebagai jaringan hemopoietik untuk memproduksi sel darah merah, sel darah putih dan trombosit.
  6. Secara garis besar tulang dibagi menjadi enam
  7. Tulang panjang (long bone), misalnya femur, tibia, fibula, ulna dan humerus. Dimana daerah batas disebut diafisis dan daerah yang berdekatan dengan garis epifisis disebut metafisis. Daerah ini sangat sering ditemukan adanya kelainan atau penyakit karena daerah ini merupakan daerah metabolik yang aktif dan banyak mengandung pembuluh darah. (Muttaqin. 2008; 5)

1)      Tulang Femur

Tulang femur merupakan tulang pipa terpanjang didalam tulang kerangka pada bagian pangkal yang berhubungan dengan asetabulum membentuk kepala sendi yang disebut kaput femoris. (Syaifuddin. 2006 ; 64).

a)      Ujung atas

Ujung atas terbagi atas tiga bagian yaitu :

(1)   Kaput

(2)   Collum

(3)   Tronchanter major sebelah lateral dan trochanter minor sebelah medial merupakan tempat melekatnya otot.

b)      Korpus

Korpus adalah tulang panjang, agak mendatar kearah medial. Sebagian besar permukaannya halus dan tempat melekatnya otot-otot.

 

 

c)      Ujung bawah

Ujung bawah terdiri dari kondile medial dan lateral yang besar dan suatu area tulang diantaranya.

2)      Tibia

Tibia adalah tulang kering merupakan kerangka yang utama dari tungkai bawah dan terletak dimedial dari fibula atau betis dan menahan berat tubuh (Pearce. 2006 ; 81). Tibia terdiri dari bagian yaitu :

a)      Ujung atas

Ujung atas tibia melebar kearah tranversal dan mempunyai permukaan artikular pada masing-masing kondile, medialis dan lateralis terdapat area luas non artikular antara permukaan tempat melekatnya ligamen.

b)      Korpus

Berbentuk potongan segitiga dan merupakan perbatasan anterior membentuk garis menonjol yang dapat diraba. Menyempit pada ujung tengah kemudian melebar.

c)      Ujung bawah

Ujung bawah tibia memperlihatkan maleolus medial berujung terutama pada aspek dalam pergelangan kaki, permukaan artikular untuk ujung bawah fibula dan permukaan artikular bawah dan medial untuk kalus

3)      Fibula

Fibula atau tulang betis adalah tulang sebelah lateral dari tibia dan terutama berguna sebagai tempat lekat untuk otot dan hanya sedikit berguna untuk menopang berat tubuh. Tulang itu adalah tulang pipa dengan sebuah batang dan dua ujung. Fibula sangat ramping dibanding tibia (Pearce. 2006 ; 81). Fibula terdiri dari dua bagian yaitu :

a)      Ujung atas

Yang berartikulasi dengan kondile lateral dari tibia korpus.

b)      Ujung bawah

Ujung bawah yang memperlihatkan meleolus lateral pergelangan kaki, permukaan artikular untuk ujung bawah tibia dan permukaan artikular untuk talus.

  1. Tulang pendek (short bone), misalnya tulang-tulang karpal
  2. Tulang pipih (flat bone), misalnya tulang parietal, iga, skapula dan pelvis
  3. Tulang tak beraturan (irregular bone), misalnya tulang vetebra
  4. Tulang sesamoid, misalnya tulang patela
  5. Tulang sutura (sutural bone), ada diatap tengkorak
    1. Fisiologi sel tulang

Tulang tersusun atas sel matriks, protein, dan deposit mineral. Sel-selnya terdiri dari 3 jenis dasar (Muttaqin. 2008 ; 9), yaitu :

  1. Osteoblast

Membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe 1 dan proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteoid melalui suatu proses yang disebut osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblas menyekresikan sejumlah besar fosfatase alkali yang memegang peranan penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat kedalam matriks tulang.

  1. Osteosit

Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat.

  1. Osteoklas

Osteoklas adalah sel berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks tulang dapat diabsorpsi.

 

  1. B.     Konsep Dasar Fraktur
  1. Pengertian

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. (Lukman dan Ningsih, Nurna, 2009 ; 25)

Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. (Doenges. 2000 ; 761)

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (Smeltzer, dkk. 2001 ; 2357).

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. (Mansjoer, dkk. 2000 ; 346).

Fraktur kruris merupakan suatu istilah untuk patah tulang tibia dan fibula yang biasanya terjadi pada bagian proksimal (kondilus), diafisis atau persendian pergelangan kaki. (Muttaqin. 2008 ; 232)

Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat penyusun simpulkan, Fraktur adalah patah tulang yang diakibatkan tekanan atau benturan yang keras yang tulang.

  1. Etiologi

Umumnya fraktur disebabkan oeh trauma atau aktivitas fisik dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang. Fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan atau luka yang disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. (Muttaqin. 2008)

  1. Trauma langsung

Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang, hal tersebut akan menyebabkan fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat comminuted dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan

  1. Trauma tak langsung

Apabila trauma di hantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, trauma tersebut disebut trauma tidak langsung, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula. Pada keadaan ini jaringan lunak tetap utuh.

  1. Fraktur yang terjadi ketika tekanan atau tahanan yang menimpa tulang lebih besar dari pada daya tahan tulang.
  2. Keadaan kelaianan patologik adalah trauma yang terjadi seperti kondisi defisiensi vitamin D, Osteoporosis.
  3. Arah, kecepatan dan kekuatan dari tenaga yang melawan tulang.
  4. Usia penderita.
  5. Kelenturan tulang dan jenis tulang.

 

Ada 2 faktor yang mempengaruhi fraktur :

  1. Ekstrinsik meliputi kecepatan dan durasi trauma yang mengenai tulang, arah dan kekuatan trauma.
  2. Intrinsik meliputi kapasitas tulang mengabsorsi energi trauma, kelenturan, kekuatan dan densitas tulang.

Fraktur biasanya disebabkan oleh adanya trauma abduksi tibia terhadap femur saat kaki terfiksasi pada dasar, misalnya trauma sewaktu mengendarai mobil dan juga dapat terjadi karena pukulan langsung, kekuatan yang berlawanan, gerakan pemuntiran tiba-tiba, dan bahkan kontraksi otot yang berlebihan.


  1. Pathways

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

       
   
   

18

 

 

 


  1. Klasifikasi Fraktur

Menurut Reeves. (2001)

  1. Berdasarkan parahnya integritas kulit, lokasi, bentuk, patahan dan status kelurusan.

1)      Fraktur tertutup, adalah fraktur yang fragmen tulangnya tidak menembus kulit sehingga tiempat fraktur tidak tercemar oleh lingkungan.

2)      Fraktur terbuka, adalah fraktur yang mempunyai hubungan dngan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within (dari dalam).

3)      Fraktur komplit, adalah fraktur yang luas dan melintang. Biasanya dengan perpindahan posisi tulang.

4)      Fraktur tak komplit, adalah hanya sebagian dari tulang yang retak.

  1. Tipe fraktur yang berat.

1)      Greenstick, fraktur yang tidak sempurna dan biasanya sering terjadi pada anak-anak.

2)      Transversal, fraktur luas yang melintang dari tulang.

3)      Oblik, fraktur yang memiliki arah miring.

4)      Spiral, fraktur luas yang mengelilingi tulang.

5)      Comuminuted, fraktur ini terjadi mencakup beberapa fragmen.

6)      Depresi, fraktur ini terjadi pada tulang pipih, khususnya tulang tengkorak dimana kekerasan langsung mendorong bagian tulang masuk kedalam.

7)      Kompresi, fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang).

8)      Patologik, terjadi jika sebuah tumor (biasanya kanker) telah tumbuh kedalam tulang dan menyebabkan tulang menjadi rapuh. Tulang yang rapuh bisa mengalami patah tulang meskipun dengan cedera ringan atau bahkan tanpa cedera sama sekali.

9)      Avulsi, disebabkan oleh kontraksi otot yang kuat, sehingga menarik bagian tulang tempat tendon tersebut melekat. Paling sering terjadi pada bahu dan lutut, tetapi bisa juga terjadi pada tungkai dan tumit.

 

  1. 5.      Proses penyembuhan tulang

Ketika tulang mengalami cedera, fragmen tulang tidak hanya ditambal dengan jaringan parut, namun secara alamiah tulang akan mengalami tegenerasi sendiri. Tahapan penyembuhan tulang terdiri atas 5, yaitu : (Lukman dan Ningsih, Nurna. 2009 ; 8)

  1. Tahap inflamasi

Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan akan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri. Saat tulang mengalami cedera, terjadi perdarahan dalam jaringan yang cedera dan pembentukan hematoma di tempat tulang yang patah. Ujung fragmen tulang mengalami devitilisasi karena terputusnya pasokan darah. Tempat cedera kemudian akan diinvasi oleh makrofag (sel darah putih besar), yang akan membersihkan daerah tersebut. Pada saat itu terjadi inflamasi, pembengkakan dan nyeri.

  1. Tahap proliferasi sel

Kira-kira lima hari hematoma akan mengalami organisasi, terbentuknya benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblas dan osteoblas. Fibroblas dan osteoklas akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrosa dan tulang rawan (osteoid). Dari periosteum, tampak pertumbuhan melingkar. Kalus tulang rawan tersebut dirangsang oleh gerakan mikro minimal pada tempat patah tulang, tetapi gerakan berlebihan akan merusak struktur kalus. Tulang yang sedang aktif tumbuh menunjukan petensial elektronegatif.

  1. Tahap pembentukan kalus

Hari ke 10 hingga sebelum minggu ke-7. Aktivitas osteoblas-osteoclas muncul, hingga terbentuk kalus.

  1. Tahap penulangan kalus (osifikasi)

Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam dua sampai tiga minggu patah tulang, melalui proses penulangan endokondral. Patah tulang panjang orang dewasa normal, penulangan memerlukan waktu tiga sampai empat bulan. Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benar telah bersatu dengan keras.

  1. Tahap menjadi tulang dewasa (Remodeling)

Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya.

  1. Faktor penyembuhan fraktur

Faktor-faktor yang menentukan lama penyembuhan fraktur adalah sebagai berikut : (Muttaqin. 2008 ; 75)

  1. Usia penderita.

Waktu penyembuhan tulang anak-anak jauh lebih cepat dari pad orang dewasa. Hal ini di sebabkan karena aktivitas proses osteogenesis pada periosteum dan endoesteum serta proses pembentukan tulang pada bayi sangat aktif. Apabila usia bertambah proses tersebut semakin berkurang.

  1. Lokasi dan konfigurasi fraktur.

Lokasi fraktur memang berperan penting. Penyembuhan fraktur metafisis lebih cepat penyembuhannya dari pad fraktur diafisis. Di samping itu konfigurasi fraktur seperti fraktur tranversal lebih lambat penyembuhannya di bandingkan dengan fraktur oblik karena kontak yang lebih banyak.

  1. Pergeseran awal fraktur.

Pada fraktur yang periosteumnya tidak bergeser penyembuhannya dua kali lebih cepat di bandingkan dengan fraktur yang bergeser.

  1. Vaskularisasi pada kedua fragmen.

Apabila fragmen mempunyai vaskularisasi yang baik, penyembuhannya tanpa komplikasi. Bila salah satu sisi fraktur mempunyai vaskularisasi yang jelek sehingga mengalami kematian.

  1. Reduksi serta imobilisasi.

Reposisi fraktur akan memberikan kemungkinan untuk vaskularisasi yang lebih baik dalam bentuk asalnya. Imobilisasi yang sempurna akan mencegah pergerakan dan kerusakan pembuluh darah yang akan mengganggu penyembuhan fraktur.

  1. Waktu imobilisasi.

Bila imobilisasi tidak di lakukan sesuai waktu penyembuhan sebelum terjadi union, kemungkinan akan terjadi non-union sangat besar.

  1. Faktor adanya infeksi dan keganasan local
  2. Cairan synovial.

Cairan synovial yang terdapat di persendian merupakan hambatan dalam penyembuhan fraktur

  1. Manifestasi klinis

Gejala umum menurut Lukman dan Ningsih, Nurna (2009) :

  1. Nyeri
  2. Hilangnya fungsi
  3. Deformitas
  4. Pemendekan ekstremitas
  5. Krepitus
  6. Pembengkakan lokal
  7. Perubahan warna  
  1. Komplikasi fraktur

Menurut Muttaqin. (2008;76)

  1. Komplikasi awal

1)      Kerusakan arteri

Pecahnya arteri karena trauma dapat ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT menurun, sianosis pada bagian distal.

2)      Sindrom kompartemen

Merupakan komplikasi yang serius yang terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Hal ini disebabkan oleh edema atau perdarahan yang menekan otot saraf dan pembuluh darah, atau karena tekanan dari luar seperti gips dan pembebatan yang terlalu kuat.

3)      Fat Embolism Syndrome

Komplikasi serius yang sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-se lemak yang dihasilkan marrow kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan kadar oksigen dalam darah menjadi rendah. Hal tersebut ditandai dengan gangguan pernapasan, takikardi, hipertensi, takipnea dan demam.

4)      Infeksi

Sistem pertahanan tubuh akan rusak bila ada trauma pada dan jaringan. Pada trauma ortopedi, infeksi dimulai pada kulit dan masuk ke dalam. Hal ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tetapi dapat juga karena penggunaan bagan lain daam pembedahan, seperti pin (ORIF & OREF) dan plat.

5)      Syok

Syok terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler sehingga menyebabkan oksigenasi menurun.

  1. Komplikasi lanjut

Menurut Muttaqin (2008)

1)      Mal union adalah keadaan ketika fraktur menyembuh pada saanya, tetapi terdapat deformitas yang berbentukk angulasi pemendekan atau union secara menyilang misalnya pada fraktur tibia-fibula.

2)      Delayed union adalah merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Hal ini terjadi karena suplai darah ke tulang menurun. Delayed union adalah fraktur yang tidak sembuh setelah waktu 3- bulan (tiga bulan untuk anggota gerak atas dan lima bulan untuk anggota gerak bawah).

3)      Non union adalah fraktur yang tidak sembuh antara 6-8 bulan dan tidak didapatkan konsolidasi sehingga terdapat pseudoartrosis (sendi palsu). Pseudoartrosis dapat terjadi tanpa infeksi, tetapi dapat juga terjadi bersama-sama infeksi.

 

  1. Pemeriksaan diagnostik
  1. Pemeriksaan Rontgen, menentukan lokasi./.luasnya fraktur dan jenis fraktur
  2. CT Scan tulang, digunakan untuk mengidentifikasi lokasi dan panjangnya tulang didaerah yang sulit dievaluasi.
  3. Hitung darah lengkap, hematokrit dan leukosit mungkin meningkat atau menurun dan.
  4. Kreatinin, trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal

(Lukman dan Ningsih, Nurna. 2009 ; 37)

  1. Penatalaksanaan
  1. Prinsip penanganan fraktur (Muttaqin. 2008;81)

1)      Rekognisi

Prinsip utama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan radiologi. Pada awal pengobatan perlu diperhatikan lokasi fraktur, bentuk fraktur, menentukan tehnik yang sesuai untuk pengobatan dan komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan.

2)      Reduksi

Reduksi fraktur adalah mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti kekakuan, deformitas serta perubahan osteoarthritis dikemudian hari.

Reduksi fraktur apabila perlu. Pada fraktur intra-artikulas diperlukan reduksi anatomis, sedapat mungkin mengembalikan fungsi normal, dan mencegah komplikasi seperti kekakuan, deformitas, serta perubahan oseoartritis dikemudian hari.

3)      Retensi (imobilisasi fraktur)

Adalah metode yang dilaksanakan untuk mempertahankan fragmen-fragmen tersebut selama masa penyembuhan dengan cara imobilisasi.

4)      Rehabilitasi

Adalah mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin. Program rehabilitasi dilakukan dengan mengoptimalkan seluruh keadaan klien pada fungsinya agar aktivitas dapat dilakukan kembali.

 

 

  1. Penatalaksanaan menurut Muttaqin (2008) ada 2 yaitu

1)      Penatalaksanaan konservatif

a)      Proteksi adalah proteksi fraktur terutama untuk mencegah trauma lebih lanjut dengan cara memberikan sling (mitela) pada anggota gerak atas atau tongkat pada anggota gerak bawah.

b)      Imobilisasi dengan bidai eksterna. Imobilisasi pada fraktur dengan bidai eksterna hanya memberikan imobilisasi. Biasanya  menggunakan Gips atau dengan macam-macam bidai dari plastik atau metal.

c)      Reduksi tertutup dengan menggunakan manipulasi dan imobilisasi eksterna yang menggunakan gips. Reduksi tertutup yang diartikan manipulasi dilakukan dengan pembiusan umum dan lokal.

d)     Reduksi tertutup dengan traksi kontinu dan counter traksi. Tindakan ini mempunyai tujuan utama, yaitu beberapa reduksi yang bertahap dan imobilisasi.

2)      Penatalaksanaan pembedahan

Penatalasanaan ini sangat penting diketahui oleh perawat, jika ada keputusan bahwa klien diindikasikan untuk menjalani pembedahan, perawat mulai berperan dalam asuhan keperawatan tersebut.

a)      Reduksi tertutup dengan fiksasi eksternal atau fiksasi perkutan dengan K-Wire.

b)      Reduksi terbuka dan fiksasi internal atau fiksasi eksternal tulang yaitu

(1)     Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) atau Reduksi terbuka dengan Fiksasi Internal.

ORIF akan mengimobilisasi fraktur dengan melakukan pembedahan untuk memasukan paku, sekrup atau pen kedalam tempat fraktur untuk memfiksasi bagian-bagian tulang pada fraktur secara bersamaan. Fiksasi internal sering digunakan untuk merawat fraktur pada tulang pinggul yang sering terjadi pada orang tua.

(2)      Open Reduction and External Fixation (OREF) atau Reduksi Terbuka dengan Fiksasi Eksternal

Tindakan ini merupakan pilihan bagi sebagian besar fraktur. Fiksasi eksternal dapat menggunakan konselosascrew atau dengan metilmetakrilat (akrilik gigi) atau fiksasi eksterna dengan jenis-jenis lain seperti gips.

  1. C.     Asuhan Keperawatan  Teoritis Pada Klien dengan Fraktur

Adapun asuhan keperawatan diuraikan mulai dari Pengkajian, Diagnosa keperawatan dan Rencana dan Implementasi keperawatan. (Muttaqin. 2009 ; 241)

  1. 1.      Pengkajian
    1. Anamnesis

1)      Identitas klien meliputi nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama, bahasa yang digunakan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, nomor register, tanggal dan jam masuk rumah sakit (MRS), dan diagnosis medis.

2)      Riwayat penyakit sekarang

Kaji kronologi terjadinya trauma yang menyebabkan patah tulang kruris, pertolongan apa yang didapatkan, dan apakah sudah berobat ke dukun patah tulang selain itu.

3)      Riwayat penyakit dahulu

Pada beberapa keadaan, klien yang pernah berobat ke dukun patah sebelumnya sering mengalami mal-union. Penyakit-penyakit tertentu, seperti kanker tulang dan penyakit menyebabkan fraktur patologis sehingga tulang sulit menyambung dan penyakit keturunan.

4)      Riwayat penyakit keluarga

Penyakit keluarga yang berhubungan dengan patah tulang kruris adalah salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik.

5)      Riwayat psikososial spiritual

Kaji respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya, peran klien dalam keluarga dan masyarakat, serta respons atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat.

 

6)      Pola hubungan dan peran

Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat karena klien harus menjalani rawat inap

7)      Pola persepsi dan konsep diri

Dampak yang timbul pada klien fraktur adalah timbul ketakutan akan kecacatan akibat fraktur yang dialaminya

8)      Pola sensori dan kognitif

Daya raba klien fraktur berkurang, terutama pada bagian distal fraktur, sedangkan indra yang lain dan kognitifnya tidak mengalami gangguan.

9)      Pola nilai dan keyakinan

Klien fraktur tidak dapat beribadah dengan baik, terutama frekuensi dan konsentrasi dalam beribadah.

  1. Pemeriksaan fisik

1)      Keadaan umum

Keadaan baik dan buruknya klien, tanda-tanda yang perlu dicatat adalah kesadaran klien.

2)      B1 (Breathing)

Pada pemeriksaan sistem pernapasan, didapatkan bahwa klien fraktur kruris tidak mengalami kelainan pernapasan.

 

 

3)      B2 (Blood)

Inspeksi tidak ada iktus jantung, palpasi nadi meningkat, iktus teraba, auskultasi suara S1 dan S2 tunggal, tidak ada mur-mur.

4)      B3 (Brain)

a)      Kepala

Tidak ada gangguan yaitu normal sefalik, simetris, tidak ada penonjolan dan tidak ada sakit kepala

b)      Leher

Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan dan refleks menelan ada

c)      Wajah

Wajah terlihat menahan sakit dan bagian wajah yang lain tidak ada perubahan fungsi dan bentuk simetris, tidak ada lesi dan edema

d)     Mata

Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis.

e)      Telinga

Tes bisik atau Weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau nyeri tekan

f)       Hidung

Tidak ada deformitas, tidak ada pemasangan cuping hidung

 

 

g)      Mulut dan Faring

Tidak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi pendarahan, mukosa mulut tidak pucat.

5)      B4 (Bladder)

Kaji urine yang meliputi warna, jumah dan karakteristik urine, termasuk berat jenis urine. Tetapi biasanya tidak mengalami gangguan.

6)      B5 (Bowel)

Inspeksi abdomen bentuk datar, simetris, tidak ada hernia. Palpasi turgor kulit baik, tidak ada defans muskular dan hepar teraba. Perkusi suara timpani ada pantulan gelombang cairan. Auskultasi peristaltik usus normal kurang lebih 20x/menit.

7)      B6 (Bone)

Adanya fraktur kruris akan mengalami secara lokal, baik fungsi motorik, sensorik maupun peredaran darah

8)      Look

Perhatikan adanya pembengkakan yang abnormal dan deformitas.

9)      Feel

Kaji adanya nyeri tekan dan krepitasi pada daerah patah.

 

 

 

10)  Move

a)      Pola aktivitas

Karena timbul nyeri, gerak menjadi terbatas. Semua bentuk aktivitas klien menjadi berkurang dan klien memerlukan bantuan orang lain.

 

  1. Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan radiologi perawat dapat menentukan lokasi fraktur, jenis, apakah fraktur terjadi pada tibia dan fibula atau hanya pada tibia saja atau fibula saja.

 

  1. 2.      Diagnosa keperawatan
    1. Nyeri
    2. Hambatan mobilitas fisik
    3. Defisit perawatan diri
    4. Resiko tinggi trauma
    5. Resiko tinggi infeksi
    6. Kerusakan integritas kulit
    7. Ansietas

 

 

 

  1. 3.      Rencana dan Implementasi keperawatan
    1. Nyeri akut yang berhubungan dengan pergerakan fragmen tulang, kompresi saraf, cedera neuromuskular, trauma jaringan, dan refleks spasme otot sekunder

Kriteria hasil :

1)      Klien melaporkan nyeri berkurang atau dapat diatasi, mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau mengurangi nyeri

2)      Klien tidak gelisah

Intervensi :

1)      Kaji tingkat nyeri

2)      Atur posisi imobilisasi pada tungkai bawah

3)      Bantu klien dalam mengidentifikasi faktor pencetus

4)      Jelaskan dan bantu klien terkait dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan noninvasif

5)      Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi

6)      Berikan kesempatan waktu istirahat

  1. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan diskontinuitas jaringan tulang, nyeri sekunder akibat pergerakan fragmen tulang, pemasangan fiksasi eksternal

Kriteria hasil :

1)      Tidak mengalami kontraktur sendi, kekuatan otot tambahan

2)      Menunjukan tindakan untuk meningkatkan mobilitas

Intervensi :

1)      Kaji mobilitas yang ada dan observasi adanya peningkatan kerusakan

2)      Atur posisi imobilisasi pada tungkai bawah

3)      Ajarkan klien melakukan latihan gerak aktif pada ekstremitas yang tidak sakit

4)      Bantu klien melakukan latihan Rom

5)      Kolaborasi dengan ahli fisioterapi

  1. Resiko tinggi trauma berhubungan dengan hambatan mobilitas fisik.

Kriteria hasil :

1)      Klien mau berpatisipasi dalam pencegahan trauma

Intervensi :

1)      Pertahankan imobilisasi pada tungkai bawah

2)      Bila klien terpasang gips pantau adanya penekanan

3)      Evaluasi bebat terhadap resolusi edema

4)      Pantau fiksasi eksternal

5)      Jangan tutup fiksasi eksternal dengan selimut

6)      Lakukan perawatan luka secara steril

  1. Resiko tinggi berhubungan dengan adanya port de entree luka operasi atau luka terbuka ditungkai bawah.

Kriteria hasil :

1)      Klien mengenal faktor-faktor risiko, dan infeksi tidak terjadi

 

Intervensi :

1)      Kaji dan pantau luka operasi setiap hari

2)      Lakukan perawatan luka secara steril\

3)      Pantau atau batasi kunjungan

4)      Bantu perawatan diri dan keterbatasan aktivitas sesuai toransi.

5)      Bantu program latihan

6)      Berikan antibiotik sesuai indikasi

  1. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan kelemahan neuromuskular dan penurunan kekuatan tungaki bawah.

Kriteria hasil :

1)      Klien dapat menunjukan perubahan gaya hidup untuk kebutuhan merawat diri.

 Intervensi :

1)      Kaji kemampuan dan tingkat penurunan

2)      Hindari apa yang tidak dapat dilakukan klien dan bantu bila perlu

3)      Ajarkan klien untuk berpikir positif terhadap kelemahan yang dimilikinya.

4)      Berikan klien motivasi dan izinkan klien melakukan tugas dan berikan umpan baik positif atas usahanya

5)      Rencanankan tindakan untuk mengurangi pergarakan

6)      Bantu dalam personal hygine

  1. Ansietas yang berhubungan dengan krisis situasional akan menjalani operasi, status ekonomi, perubahan fungsi peran.

Kriteria hasil :

1)      Klien mengenal perasaanya, dapat mengidentifikasi penyebab atau faktor yang mempengaruhnya

Intervensi :

1)      Kaji tanda verbal dan nonverbal ansietas

2)      Dampingi klien dan lakukan tindakan bila menunjukan perilaku merusak

3)      Hindari konfrontasi

4)      Mulai lakukan tindakan untuk mengurangi ansietas

5)      Beri lingkungan yang tenang dan suasana penuh istirahat

6)      Tingkat kontrol sensasi klien

7)      Orientasikan klien terhadap tahap-tahap prosedur operasi dan aktivitas yang diharapkan

8)      Berikan privasi klien dan orang terdekat

 

  1. 4.      Evaluasi

Hasil asuhan keperawatan yang diharapkan adalah nyeri teratasi, terpenuhinya pergerakan/mobilitas fisk, terhindar dari risiko cedera risiko infeksi pascaoperasi dan ansietas berkurang.

BAB III

LAPORAN KASUS

Pada bab ini penulis menyajikan laporan kasus yaitu Asuhan Keperawatan pada Tn. S dengan Gangguan Sistem ­­­­­­­­Muskuloskeletal : Fraktur Cruris yang dirawat di Ruang Penyakit Bedah Umum Pria (C) RSUD Dr. Soedarso Pontianak, penulis melakukan  asuhan keperawatan  selama  3  hari  di  mulai  dari  tanggal  28  Juni  2010  sampai  dengan 30 Juni 2010.

 

  1. A.    Pengkajian

Metode yang digunakan dalam pengkajian kasus ini adalah metode deskriptif, dengan pengamatan langsung, wawancara dengan klien, keluarga dan tim kesehatan, pemeriksaan fisik dan catatan medis.

  1. Identitas Klien

Nama                                    :  Tn. S

                                             Umur      :           50 tahun

                                             Jenis Kelamin     :           Laki-laki

                                             Agama    :           Kristen Katolik

                                             Bangsa / suku     :           Indonesia / Dayak

                                             Pendidikan         :           SD

                                             Pekerjaan            :           Swasta

                                             Status Perkawinan         :           Kawin

                                             Alamat   :           Jalan Oevang Oerang Sintang

Ruangan                               :  Penyakit Bedah Umum Pria (C)

                                             No. RM  :           691410

                                             Tanggal Masuk   :           24 Juni 2010

Tanggal Pengkajian              :  28 Juni 2010

Diagnosa Medis                   :  Fraktur Cruris

                                             Penanggung Jawab        :           Tn.Sholihun

 

  1. Riwayat Kesehatan Klien
    1. Kesehatan Masa Lalu

Klien mengatakan, sebelumnya belum pernah masuk rumah sakit dan belum pernah menderita penyakit seperti patah tulang, terbentur dan klien tidak mempunyai penyakit keturunan seperti Hipertensi, Jantung, Diabetes Melitus, dan klien hanya menderita penyakit biasa seperti demam, Flu dan jika sakit selalu berobat ke puskesmas.

  1. Riwayat Kesehatan Sekarang

1)     Keluhan utama / alasan masuk rumah sakit

Klien mengatakan masuk rumah sakit pada tanggal 24 Juni 2010. Klien mengalami kecelakaan lalu lintas tertabrak motor pada saat klien mau menyebrang jalan dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Sintang kemudian lansung dirujuk ke Rumah Sakit Soedarso dan dirawat inap di Ruang C.

2)     Keluhan waktu di data

DS      :

-          Klien mengatakan nyeri pada daerah kaki kanan dengan karakteristik P = saat bergerak, Q = menusuk-nusuk, R = kaki kanan, S = 4-6 (sedang) T = intermitten.

-          Klien mengatakan balutan belum diganti selama 8 hari.

-          Klien mengatakan kakinya terpasang gips sudah 8 hari dan kakinya sulit digerakan selama terpasang gips.

-          Klien mengatakan 8 hari infusnya belum diganti

-          Klien mengatakan belum pernah mandi selama 8 hari dikarenakan sakit saat bergerak

-          Klien mengatakan sering terbangun malam dikarenakan nyeri pada kaki

-          Klien mengatakan aktivitasnya dibantu oleh keluarga dan perawat

-          Klien mengatakan sakit kaki kanannya kalau dilakukan pergerakan

 

 

 

  1. Riwayat Kesehatan Keluarga

Klien mengatakan didalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit seperti osteoporosis, kanker tulang dan keluarga klien tidak ada yang menderita apa yang klien alami saat ini dan didalam keluarga klien tidak ada yang menderita penyakit keturunan seperti hipertensi dan DM.

 

  1. Data Biologis
    1. Pola nutrisi

Sebelum sakit      : Klien mengatakan makan 3 x/hari dengan menu bervariasi nasi, lauk-pauk dan klien menyukai makanan sayuran, tidak ada pantangan atau alergi dalam makan.

Saat sakit             : Klien mengatakan makan 3 x/hari dengan menu yang disediakan di rumah sakit (bubur dan sayur) dan telur, ikan dan ayam.

  1. Pola minum

Sebelum sakit      : Klien minum  ± 1500 – 2000 cc/hari air putih + 8-12 gelas perhari kadang-kadang minum kopi + 1 gelas sehari, teh + 2 gelas sehari.

Saat sakit             : Klien minum + 1000 – 1500 cc / hari air putih dan selama di rumah sakit klien tidak pernah minum kopi, teh dan klien terpasang infus RL 20 tetes / menit.

 

  1. Pola eliminasi

Sebelum sakit      : Klien BAK ± 7-8 x/hari berwarna kekuning-kuningan berbau khas (amoniak). Klien BAB ± 1 x/hari dengan konsistensi lembek.

Saat sakit             : Klien BAK ± 5-6 x/hari berwarna kekuning-kuningan berbau khas (amoniak). Klien BAB + 1 x/hari dengan konsistensi lembek.

  1. Pola istirahat dan tidur

Sebelum sakit      : Klien tidur 7-8 jam/hari tanpa ada keluhan.

Saat sakit             : Klien tidur 5-6 jam/hari, Klien mengatakan sering terbangun malam dikarenakan nyeri pada kaki

  1. Pola kebersihan

Sebelum sakit      : Klien mandi 2-3 x/hari, dengan menggunakan sabun, gosok gigi setiap mandi, potong kuku setiap panjang, cuci rambut setiap kali mandi.

Saat sakit             : Klien mengatakan belum pernah mandi selama 8 hari dikarenakan sakit saat bergerak

  1. Pola aktivitas

Sebelum sakit  :  Klien sebagai kepala rumah tangga bekerja sebagai swasta / buruh. Dalam mengisi waktu luangnya klien bermain dengan anak-anaknya.

Saat sakit             : Klien mengatakan aktivitasnya dibantu oleh keluarga dan perawat

  1. Pemeriksaan Fisik
    1. Keadaan umum               : Baik
    2. Kesadaran                       : Composmentis
    3. Tanda-tanda Vital           : TD  : 130/70 mmHg

                                                 N   :           84 x/menit

                                                 RR            :           22 x/menit

                                                 S    :           36,5o C

  1. Kepala, leher, dan axilla :

1)      Kepala

Inspeksi   : Bentuk simetris, distribusi rambut merata dan pendek, warna rambut hitam.

Palpasi     : tidak teraba benjolan dan massa, tidak ada lesi, kebersihan rambut cukup.

2)      Leher

Inspeksi   : Betuk simetris, tidak terdapat peningkatan vena jugularis

Palpasi     : tidak terdapat pembengkakkan kelenjar tiroid, kebersihan kurang dan tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening, tidak terdapat kaku kuduk, pergerakan leher bebas.

 

 

3)      Axilla

Bentuk Simetris, kebersihan axila kurang, tidak terdapat  pembesaran kelenjar getah bening,.

  1. Mata

Inspeksi            :  Bentuk simetris, konjungtiva merah muda, Sklera tidak ikterik, reaksi pupil isokor, klien tidak menggunakan alat bantu penglihatan, dan terlihat lingkar hitam dimata.

  1. Telinga

Inspeksi            :  Bentuk simetris, tidak terdapat penumpukan serumen, fungsi pendengaran baik.

Palpasi              : tidak terdapat nyeri tekan pada tulang mastoid.

  1. Hidung

Inspeksi            :  Bentuk simetris, tidak terdapat polip, mukosa tampak lembab, penciuman baik, tidak menggunakan alat bantu pernapasan.

  1. Mulut dan Paring

Inspeksi            :  Bentuk simetris, bibir lembab, gigi dan lidah tampak kotor, pengecapan baik.

  1. Dada

1)      Rongga thoraks

Inspeksi      : Pernapasan regular, bentuk dada normal

 

Palpasi        : vocal premitus simetris.

2)      Paru-paru

Inspeksi      : Ekspansi dinding paru kiri dan kanan simetris.

Perkusi       : Terdengar suara resonan di paru kiri dan di paru kanan.

Auskultasi : tidak terdengar suara ronkhi –/– dan wheezing –/– di paru kiri dan kanan baik itu bagian apeks maupun basis. 

3)      Jantung

Palpasi     : Teraba iktus kordis.

Perkusi     : Terdengar suara dullnes sampai iga 4-5 dan tidak terdapat tanda-tanda pembesaran jantung.

Auskultasi: terdengar suara S1 (lup), S2 (dup), tidak terdengar suara tambahan seperti gallop (S3), murmur (S4).

4)      Payudara

Inspeksi   : Bentuk simetris, tidak terdapat banjolan.

  1. Abdomen

Inspeksi            : Bentuk simetris, tidak terdapat asites, tidak terdapat lesi.

Palpasi              : Tidak terdapat pembesaran hati, tidak terdapat nyeri tekan, tidak terdapat pembesaran pada ginjal kanan dan tidak teraba pembesaran pada ginjal kiri

Perkusi              : Bunyi tympani pada kuadran kiri atas dan bawah, dan Bising usus 6 – 8 x/menit

 

  1. Punggung

Inspeksi            :  Bentuk simetris, tidak terdapat kelainan pada tulang belakang, tidak terdapat lesi.

Palpasi              : Tidak terdapat pembengkakan dan kebersihan kurang.

  1. Genetalia dan Rektum

Berdasarkan wawancara tidak ada keluhan.

  1. Ekstremitas

Atas                  : Bentuk simetris, tidak ada kelainan pada kedua tangan, tidak terdapat lesi pada tangan kanan terpasang infus RL % 20 tetes /menit, tugor kulit elastis, kapilary reffil < 3 detik, tidak ada edema.

Bawah              : pergerakan kaki kiri baik, tidak terdapat lesi dan edema. Kaki kanan pergerakan terbatas karena mengalami fraktur cruris, terpasang gips dari metatarsal sampai Patela, dikaki klien terdapat luka jahitan sebanyak 8 jahitan dan panjang luka 7 cm didistal dan diproksimal terdapat lesi, kondisi lukanya terdapat pus dan terdapat tanda-tanda infeksi seperti dolor, rubor, kalor, tumor dan disfungsileosa (+)

Kekuatan otot :

 

 

  1. Data Psikologis
    1. Status emosi

Emosi klien stabil, klien mengatakan bahwa penyakitnya adalah cobaan, dan klien tampak bersabar menghadapi penyakit yang dideritanya.

  1. Konsep diri

Ideal diri          :

 

Harga diri        :

 

Gambaran diri :

 

 

Identitas diri    :

 

Peran diri         :  

klien mengatakan berharap penyakit yang dideritanya cepat sembuh

klien mengatakan  yakin bahwa dirinya masih dihargai oleh keluarganya, anak-anak, saudara dan tetangganya.

klien mengatakan  selama sakit berat badan menurun, badannya semakin kurus, bagi klien itu hal yang biasa dialami selama orang sakit

klien seorang laki-laki, dan klien sangat menerima dirinya sebagai laki-laki

Kepala rumah tangga, selama sakit klien merasa perannya berubah yang awalnya seorang kepala rumah tangga yang mencari nafkah untuk anak istrinya terhambat, akan tetapi klien tidak bersedih hati karena perannya digantikan oleh istrinya untuk dapat menafkahi anaknya

  1. Gaya Komunikasi

Klien meggunakan bahasa Dayak dan bahasa Indonesia. Intonasi datar dan nada rendah, mampu bertatap muka saat berbicara.

  1. Pola Interaksi

Interaksi klien baik, dibuktikan dengan saat diajak bicara klien mau berespon, dan banyaknya keluarga yang merawat dan menjaganya.

  1. Pola koping

Klien hanya bisa berdoa untuk kesembuhan penyakitnya. Dan jika ada masalah klien sering bercerita pada istrinya untuk dipecahkan secara bersama-sama.

  1. Data Sosial
    1. Pendidikan dan pekerjaan

Pendidikan akhir klien sekolah dasar, dan klien bekerja sebagai buruh swasta.

  1. Hubungan sosial

Hubungan sosial klien baik ditandai dengan banyaknya anggota keluarga yang berkunjung saat klien sakit dan hubungan sosial klien terhadap keluarga, perawat, tim kesehatan lain maupun tentangga beserta keluarga baik.

  1. Faktor sosiokultural

Klien  bersuku dayak, tidak ada yang bertentangan dengan pengobatan dan tindakan keperawatan yang diberikan pada klien.

 

 

 

  1. Gaya hidup

Pada umur 11 tahun klien telah mengenal rokok dan klien perokok aktif sehari menghabiskan 2 bungkus dengan jenis rokok kretek. Diwaktu muda klien senang minum  minuman beralkohol.

 

  1. Pengetahuan Tentang Penyakitnya

Klien mengatakan  tidak tahu tentang penyakit yang dideritanya dan cara perawatannya.

  1. Data Spiritual

Klien menganut agama Kristen katolik, klien mengatakan jarang melakukan ibadah dan saat ini klien hanya bias duduk dan berdoa untuk kesembuhan dirinya.

  1.  Data penunjang

Tanggal 25 juni 2010

Pemeriksaan

Hasil

Nilai normal

Gula darah sewaktu

Leokosit

HB

Trombosit

Foto Rontgen

82

6.300 mg/dl

12,3 g/dl

296 k/ul

Fraktur Cruris

55-150

4500-11.000

L:14-18 P:12-26

150-440

 

 

  1. Pengobatan
    1. Ceftriaxon 1 gram 2×1
    2. Tranexaman acid 3×1 amp
    3. Ranitidin 2×1 amp
    4. Ketorolac 1×1 amp

BAB V

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

Setelah kelompok melakukan asuhan keperawatan pada Tn. S dengan Fraktur Cruris di ruang Bedah Umum Pria (C) Rumah Sakit Umum Dr.Soedarso Pontianak selama tiga hari yang di mulai pada tanggal 28 Juni 2010 sampai dengan tanggal 30 Juni 2010, maka penyusun dapat menyimpulkan bahwa :

  1.  Fraktur merupakan istilah yang sering digunakan untuk seseorang yang mengalami patah tulang, dengan gejala utamanya adalah bisa terjadinya deformitas, krepitasi, dan yang paling utama ialah nyeri pada daerah yang patah. Pada saat pengkajian pada Tn.S ditemukan data-data yang sesuai dengan apa yang dijelaskan tinjauan teoritis sehingga memudahkan penyusun memberikan asuhan keperawataan secara menyeluruh.
  2. Pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien dengan fraktur yang terjadi di Rumah Sakit Umum Dr. Soedarso sudah sangat baik dikarenakan pada saat melakukan tindakan keperawatam klien dan keluarga dapat memberi ruang sehingga memudahkan penyusun dalam pelaksanaan tindakan dan kerjasama antara penyusun dengan perawat ruangan terjalin dengan baik
  3. Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada Tn.S dengan fraktur cruris, diagnosa yang mucul pada dasarnya sudah hampir sesuai dengan diagnosa yang ada dalam askep teoritis, tetapi ada beberapa diagnosa yang tidak ada didalam askep teoritis sehingga mengharuskna penyusun mengangkat diagnosa tersebut
  4. Faktor pendukung dari pelaksanaan asuhan keperawatan pada Tn.S adalah adanya kerjasama, baik itu di antara tim kesehatan dalam hal pelayanan kesehatan maupun kerjasama antara perawat atau petugas kesehatan lain dengan klien itu sendiri. Sedangkan faktor pengahambatnya tidak terlalu bearti sehingga didalam melakukan pengkajian serta tindakan penyusun tidak mengalami kesulitan.

Dengan demikian kompleksnya permasalahan yang timbul pada klien dengan fraktur cruris, maka memberikan asuhan keperawatan diperlukan penanganan khusus dan berkesinambungan, klien perlu diberikan pendidikan kesehatan baik tentang proses penyakit dan program pengobatan sehingga tidak timbul penyakit yang berulang.

 

  1. B.    Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penyusun berusaha, mencoba mengemukakan saran yang bisa di jadikan pertimbangan dan untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan. Adapun saran tersebut adalah :

  1. Rumah Sakit

Bagi rumah sakit diharapkan memberikan pelatihan pada para perawat untuk menambah keterampilan ilmu pengetahuannya dan Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, hendaknya ditingkatkan sarana dan prasarana seperti alat-alat kesehatan yang memadai dan tetap mempertahankan prinsip steril guna mencegah terjadinya infeksi dan mempermudah dalam intervensi keperawatan.

  1. Perawat

Bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan hendaknya tidak hanya memberikan pelayanan dari satu aspek saja, tetapi harus memberikan pelayanan yang menyeluruh seperti aspek bio, psiko, sosio, dan spritual. Sehingga perawat ruangan juga dapat mengetahui perrmasalahan oleh seorang klien secara menyeluruh.

  1.  Pendidikan

Bagi pendidikan diharapkan pada saat menyelenggarakan ujian praktek di Rumah Sakit seharusnya untuk memperhatikan kelengkapan dari alat-alat yang akan digunakan mahasiswa sehingga untuk mempermudahkan dalam melakukan tindakan atau asuhan keperawatan.

  1. Bagi Mahasiswa

Sebagai calon tenaga perawat profesional, hendaknya mahasiswa keperawatan dapat mempergunakan wadah tempat mereka menimba ilmu dengan semaksimal mungkin, sehingga dalam melaksanakan tindakan keperawatan harus didasari dengan teori yang ada agar nantinya mahasiswa itu menjadi lebih siap dan mampu mengaplikasikan ilmu keperawatan dengan sebaik-baiknya apabila mereka telah terjun ke lahan praktek.

BAB IV

PEMBAHASAN

 

Pada bab ini penyusun akan membahas mengenai kasus yang telah diuraikan pada bab sebelumnya yaitu “Asuhan Keperawatan pada Tn. S dengan Gangguan Sistem Mukuloskeletal : Fraktur Cruris (Tibia Fibula) di Ruang Penyakit Bedah Umum Pria ( C ) RSUD Dr. Soedarso Pontianak”. Asuhan keperawatan dilaksanakan selama 3 hari yang di mulai dari tanggal 28 Juni 2010 sampai dengan 30 Juni 2010.

Pada pembahasan ini akan diuraikan kesenjangan antara tinjauan teoritis dengan kasus dalam pelaksanaan secara nyata sesuai dengan tahap-tahap proses keperawatan yaitu : pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, implementasi, dan evaluasi keperawatan.

 

  1. A.    Pengkajian

Pengkajian keperawatan merupakan tahap awal dari proses keperawatan, oleh karena itu tepat atau tidaknya intervensi yang kita lakukan pada klien tergantung pada tahap pengkajian ini. Dalam pengumpulan data pada kasus Tn.S penyusun menggunakan dua tehnik anamnesa yaitu : Auto Anamnesa (pengkajian langsung pada klien dengan cara observasi, wawancara dan pemeriksaan) dan Allo Anamnesa (pengkajian yang dilakukan pada anggota keluarga, medical record, hasil-hasil pemeriksaan diagnostik atau data-data penunjang).

Dalam melakukan pengkajian pada kasus Tn. S dari tanggal 28 Juni 20010 sampai dengan 30 Juni 2010 berjalan dengan baik tanpa ada hambatan yang berarti, karena sebelumnya penyusun sudah membina hubungan saling percaya dengan klien dan keluarganya. Didalam melakukan pengkajian klien dan keluarga mau mengungkapkan masalah-masalah yang dirasakan oleh klien dan memberikan jawaban atas pertanyaan penyusun kepada klien dan keluarga.

Pada tahap pengkajian ini penyusun mengumpulkan informasi yang sistematis tentang Tn. S dengan menggunakan konsep teoritis yang terkait dengan permasalahan klien sebagai alat bantu dalam arah pengkajian. Hasil  pengkajian yang diperoleh dari Tn. S antara lain seperti keluhan  nyeri tekan, deformitas pada kakinya, pembengkakan lokal, fungsi motorik, sensorik maupun peredaran darah kurang baik, gerak menjadi terbatas dan Semua bentuk aktivitas klien menjadi berkurang, klien memerlukan bantuan orang lain. Hal ini sesuai dengan apa yang dijelaskan di dalam asuhan keperawatan teoritis.

Manifestasi klinis atau tanda dan gejala yang mungkin muncul dari hasil pengkajian yang dijelaskan pada asuhan keperawatan teoritis ternyata tidak semuanya muncul pada kasus Tn. S, tanda dan gejala tersebut antara lain seperti palpasi nadi meningkat dan krepitasi pada daerah patah. Penyebab tidak munculnya tanda dan gejala yang terdapat pada konsep teoritis tersebut dikarenakan oleh beberapa faktor antara lain seperti nyeri yang dirasakan klien tidak begitu sakit oleh sebab itu saat nadinya diraba tidak terasa cepat atau meningkat kemudian pada saat pengkajian tidak terdengar krepitasi pada daerah patah itu dikarenakan klien pada saat itu sudah dipasang gips.

Selama proses pengkajian pada Tn. S,  penulis merasakan adanya faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung yang penulis rasakan pada tahap pengkajian adalah sikap klien dan keluarga yang kooperatif sehingga penulis dapat memperoleh data tentang permasalahan yang sedang klien alami, sedangkan faktor penghambatnya yaitu pada hari pertama pengkajian klien dan keluarga masih belum memberikan data yang lengkap kepada penyusun karena merasa malu.

 Kemudian, pengumpulan data seperti hasil pemeriksaan yang lain penyusun melihat dari catatan keperawatan dan catatan medis untuk memudahkan penyusun untuk memahami kondisi klien secara komprehensif.

  1. B.    Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan / proses kehidupan yang aktual maupun potensial.

Setelah dilakukan proses pengkajian maka didapatkan data yang kemudian penyusun menganalisa dan mengidentifikasi menjadi rumusan diagnosa keperawatan aktual maupun resiko.

Pada tahap ini penyusun menganalisa dan mensintesis data yang telah dikelompokkan, kemudian dilakukan penilaian klinik tentang respon klien dan keluarga terhadap masalah kesehatan / proses kehidupan yang aktual dan resiko. Dari hasil penilaian klinik, diperoleh 6 diagnosa keperawatan dari kondisi Tn. S yaitu empat diagnosa aktual dan dua diagnosa resiko. Adapun diagnosa yang aktual adalah Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan nyeri, gangguan pemenuhan kebutuhan adl berhubungan dengan nyeri sekunder akibat pergerakan fragmen tulang, gangguan pemenuhan personal hygine : mandi berhubungan dengan keterbatasan pergerakan sekunder, dan kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi. Sedangkan diagnosa yang resiko yaitu Resiko tinggi Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemasangan fiksasi eksternal, dan Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan Trauma pada jaringan kulit.

Keenam diagnosa yang muncul tersebut, hanya lima diagnosa yang tidak sesuai dengan asuhan keperawatan teoritis yaitu Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan nyeri, gangguan pemenuhan kebutuhan ADL berhubungan dengan nyeri sekunder akibat pergerakan fragmen tulang, gangguan pemenuhan personal hygine : mandi berhubungan dengan keterbatasan pergerakan sekunder, Resiko tinggi Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemasangan fiksasi eksternal, dan Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan Trauma pada jaringan kulit. Sedangkan diagnosa yang sesuai dengan askep teoritis hanya satu yaitu Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi.

Alasan diangkatnya diagnosa tersebut karena pada saat pengkajian penyusun menemukan data-data yang terkait pada diagnosa tersebut seperti klien tampak mengantuk, klien tampak menguap dan klien juga mengatakan tidak bisa tidur malam dikarena nyeri kaki kanannya, dan penyusun beranggapan bahwa setiap orang yang mengalami fraktur atau patah tulang akan mengalami nyeri yang juga bisa mengakibatkan istirahat tidurnya akan terganggu, sedangkan diagnosa resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan Trauma pada jaringan kulit penyusun angkat dikarenakan pada saat pengkajian lukanya terdapat pus. Sedangkan, diagnosa gangguan pemenuhan kebutuhan ADL berhubungan dengan nyeri sekunder akibat pergerakan fragmen tulang, dan gangguan pemenuhan personal hygine : mandi berhubungan dengan keterbatasan pergerakan sekunder penyusun angkat dikarenakan fraktur pada kakinya yang mengakibatkan kebutuhan klien tidak terpenuhi. Sebaliknya, ada dua diagnosa yang tidak muncul pada klien yaitu Resiko tinggi trauma berhubungan dengan hambatan mobilitas fisik, dan resiko Resiko tinggi berhubungan dengan adanya port de entree luka operasi dan Ansietas yang berhubungan dengan krisis situasional akan menjalani operasi, status ekonomi, perubahan fungsi peran. Alasan penyusun tidak mengangkat diagnosa tersebut dikarenakan tidak adanya data-data yang kuat untuk membuktikan ada masalah pada diagnosanya tersebut.

Kemudian, pada diagnosa kerusakan integritas kulit ada juga kesenjangan antara teori dengan praktek, penyusun lebih tertarik mengangkat masih resiko belum menjadi aktual dikarenakan pada saat pengkajian penyusun tidak menemukan data-data yang menunjukan bahwasannya diagnosa tersebut sudah menjadi aktual.

 

  1. C.    Perencanaan Keperawatan

Perencanaan merupakan suatu proses penyusunan berbagai intervensi keperawatan yang dibutuhkan untuk mencegah, menentukan atau mengatasi masalah-masalah klien (Hidayat, Azis Alimus, 2004; 114).

Tahap perencanaan merupakan tahap lanjut dari diagnosa keperawatan, dimana didalam perencanaan akan menentukan keberhasilan asuhan keperawatan  yang akan dilakukan, kegiatannya dimulai dari menetapkan prioritas masalah, perumusan tujuan, penentuan kriteria hasil yang menggunakan SMART dan rencana tindakan sesuai dengan kondisi klien dan rasionalnya.

Pada tahap intervensi, penyusun membuat rencana tindakan sesuai data yang didapat pada saat pengkajian dan apa yang menjadi keluhan klien. Didalam menentukan tindakan keperawatan, penyusun merencanakan beberapa tindakan dengan mengikut sertakan keluarga dalam pelaksanaan asuhan keperawatan sehingga tidak ada kesulitan penyusun dalam melakukan tindakan keperawatan kepada klien dan keluarganya.

 

  1. D.    Implementasi  Keperawatan

Pelaksanaan rencana keperawatan merupakan kegiatan atau tindakan yang diberikan kepada klien. Kegiatan ini meliputi pelaksanaan rencana keperawatan dan rencana medis. Pada tahap ini, penyusun dapat melaksanakan asuhan keperawatan pada klien sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Dalam hal ini penyusun sebagai anggota tim keperawatan mengimplementasikan intervensi keperawatan dengan berlandaskan teori, baik secara mandiri maupun kolaboratif sesuai dengan penyakit yang diderita pasien dan kondisi pasien saat itu. Di dalam tahap implementasi ini rencana tindakan yang sudah dibuat berdasarkan tinjauan teoritis sudah dilakukan dengan baik.

Dalam tahap pelaksanaan secara garis besar tindakan yang dilakukan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan rencana, karena adanya kerjasama yang baik antara perawat, tenaga kesehatan lainnya dan keluarga namun penyusun masih sedikit mengalami hambatan dalam melakukan tindakan keperawatan dikarenakan pada saat melakukan perawatan luka dan ingin mengganti perban elastis yang kelihatan kotor, ada beberapa alat-alat yang tidak tersedia sehingga mengharuskan untuk membelinya demi kelengkapa alat yang kurang.

Dalam melaksanakan tindakan keperawatan, penyusun bekerja sama dengan perawat ruangan karena penulsi tidak bisa berada di ruangan selama 24 jam untuk memantau perkembangan dan melakukan perawatan kepada klien.

 

  1. E.    Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah tindakan aktual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan sejauh mana diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai karena melalui evaluasi memungkinkan perawatan untuk memonitor perkembangan klien.

Pada tahap ini penyusun melakukan penilaian terhadap asuhan keperawatan selama 3 hari, mulai dari tanggal 28 Juni 2010 sampai 20 Juni 2010, dengan menggunakan dua macam evaluasi yaitu formatif dan evaluasi sumatif, dari ketujuh diagnosa yang penyusun temukan pada Tn. S, dua diagnosa dapat teratasi, tiga teratasi sebagian dan dua diagnosa tidak menjadi resiko.

Adapun diagnosa yang teratasi yaitu yang kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi, faktor yang mendukung sehingga diagnosa tersebut teratasi karena adanya kerjasama yang baik dari klien dan keluarga sehingga apa yang penyusun informasikan atau sampaikan kepada klien dan keluarga lansung dilaksanakan.

Kemudian diagnosa yang teratasi sebagian adalah Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan nyeri, Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL berhubungan dengan nyeri sekunder akibat pergerakan fragmen tulang, dan Gangguan pemenuhan personal hygine : mandi berhubungan dengan keterbatasan pergerakan sekunder, adapun faktor yang penghambat sehingga diagnosa tersebut hanya teratasi sebagian dikarenakan nyeri yang dirasakan klien sering dirasakan klien apa lagi pada saat bergerak, sedangkan untuk diagnosa selanjutnya hanya teratasi sebagian karena pergerakan kaki kanannya terbatas dan didukung juga klien memakai fiksasi yaitu gips.

Kemudian yang terakhir untuk diagnosa yang tidak menjadi resiko yaitu Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemasangan fiksasi eksternal dan resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan trauma pada jaringan kulit, faktor yang mendukung sehingga diagnosa tersebut tidak menjadi resiko adalah pada saat implementasi dilakukan tindakan sesuai rencana seperti perawatan luka dan tidak ada terjadi penekanan pada kulit klien.

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s